Menyambung tulisan sebelumnya mengenai komputer pertama saya, pada posting kali ini saya akan mencoba menuliskan pengalaman saya mengenai komputer kedua saya. Ya, komputer ini merupakan komputer kedua saya setelah komputer pertama saya yang saya lupa-lupa ingat nasib kelanjutannya bagaimana. Yang jelas pada awal kuliah di STMB saya sudah tidak punya komputer lagi. Sementara kebutuhan pada saat itu menuntuk saya untuk menggunakan komputer. Untuk menyiasati kebutuhan saya tersebut, saya sering numpang di rumah bibi saya untuk menggunakan komputer. Tapi bagaimanapun saya bisa bebas menggunakan komputer di rumah bibi saya, tetap saja tidak senyaman menggunakan komputer sendiri. Terlebih saat itu saya sudah dimanja dengan kenikmatan menggunakan hardware yang diatas komputer lama saya, maka saya tidak akan nyaman menggunakan komputer dengan level hardware dibawah komputer yang biasa saya pakai saat itu.
Tidak mudah untuk mendapatkan komputer kedua ini, mengingat saat itu kondisi keuangan keluarga yang kurang baik, sehingga menyebabkan kebutuhan ini agak terbengkalai. Tapi Alhamdulillah, dengan segala macam cara, pada waktu itu ayah saya pada akhirnya bisa membantu saya membeli komputer kedua ini. Saya tidak ingat darimana uangnya, tapi yang jelas jika dilihat dari kondisi keuangan keluarga saya saat itu, ini merupakan pengorbanan yang sangat besar dari orang tua saya.
Untuk membeli komputer kedua ini tidak semudah ketika membeli komputer pertama. Komputer kedua ini dibeli secara ketengan. Perangkat yang pertama dibeli pada waktu itu adalah casing. Seingat saya uang untuk membeli casing ini adalah sisa dari membayar uang kuliah untuk semester 2. Berikut ini faktur pembelian casing komputer tersebut;
Casing tersebut saya beli di daerah segitiga mas, pusat pertokoan komputer di daerah Ahmad Yani, Bandung. Saya membeli casing itu sepulang kuliah naik angkot. Dan casing tersebut saya bisa bawa pulang dengan menggunakan motor. Tidak mudah loh untuk membawa casing dengan menggunakan motor, mengingat ukuran dari casing saat itu adalah casing tower ATX yang lumayan ribet jika dibawa dengan menggunakan motor.
Selepas membeli casing, beberapa hari kemudian saya membeli perangkat-perangkat lainnya. Perangkat lain ini saya beli berdua bersama ayah saya di daerah BEC (Bandung Electronic Center), dimana pada saat itu BEC ini masih baru dibuka. Saya ingat, saat itu hari minggu, saya berdua bersama ayah saya berangkat ke BEC pagi-pagi. Saya langsung menuju satu toko yang sudah saya tandai sebelumnya. Karena sebelum hari itu saya sudah sempat jalan-jalan ke BEC untuk membanding-bandingkan harga komputer disitu. Sampai di tempat yang dituju, akhirnya saya memesan untuk komputer dengan spesifikasi sebagai berikut;
- Processor Athlon XP1700
- Motherboard ECS K7S5A
- Hard Disk Seagate 20GB 5400 RPM
- VGA Card GeForce 2MX400 64MB
- Memory VISIPRO 128 MB PC1200
berikut faktur dari pembelian komputer tersebut
sambil menunggu komputer tersebut selesai dirakit dan diinstall dengan sistem operasi, saya diajak oleh ayah saya untuk pergi ke sebuah penampungan monitor bekas di daerah pasar ancol. Saat itu saya memutuskan untuk membeli monitor bekas dengan harga 250 ribu, karena pertimbangan ekonomis. Mengingat saat itu harga sebuah monitor baru bisa mencapai 600 s/d 800 ribu rupiah atau bahkan lebih. Oleh karena itu, solusi membeli monitor bekas ini adalah solusi paling oke saat itu.
Selesai membeli monitor, saya berdua bersama ayah saya pulang membawa monitor tersebut dengan menggunakan motor (waktu itu kami belum mempunyai mobil). Sampai di rumah, simpan monitor tersebut dan kembali lagi ke BEC untuk membawa komputer yang selesai dirakit. Sampai di BEC kami teringat, ada satu hal yang belum kami beli saat itu, mouse. Tapi karena saat itu uang kami sangat pas-pas-an, kami urung membeli mouse tersebut, meskipun saat itu harga mouse hanya 20 ribuan. Akhirnya untuk menyiasati ketiadaan mouse tersebut, di tengah jalan saya menelepon teman saya untuk menanyakan komputer lamanya yang sudah tidak dipakai di gudang. Akhirnya berkat bantuan teman saya tersebut, saya bisa mengoperasikan komputer baru tersebut.
Sampai di rumah, komputer ini tidak begitu saja bisa berjalan mulus sebagaimana layaknya komputer baru. Monitor bekas yang saya beli ternyata tidak mampu bertahan lama, dua hari sejak dibeli, monitor tersebut mati total dan tidak bisa dipakai lagi. Akhirnya karena masa garansi kami pun menukar dengan monitor bekas lainnya. Tapi ada satu masalah, monitor yang bisa dipakai saat itu warnanya sudah kusam sekali. Tapi karena tidak ada pilihan lagi saat itu, maka akhirnya monitor berwarna kusam tersebutlah yang dibawa pulang. Setidaknya monitor tersebut mampu berfungsi dengan baik. Untuk mengatasi warnanya yang kusam, saya dan ayah saya membeli sekaleng cat semprot berwarna hitam dov, dan whoala! monitor kusam berubah warna menjadi hitam dov yang keren sekali. Sekedar catatan, monitor berwarna hitam saat itu harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan monitor biasa.
Komputer ini saya gunakan sampai dengan tahun 2005, sebelum akhirnya berpindah tangan ke adik sepupu saya. Dengan komputer ini saya menjalani semua kisah-kisah perjuangan semasa kuliah dulu. Kisah-kisah yang kadang saya harap adik-adik saya, atau bahkan anak saya nanti kelak tidak perlu mengalami pahitnya perjalanan hidup saya kala itu. Kadang, jika diingat-ingat lagi masa-masa itu, sedihnya bukan main. Terlebih jika melihat adik-adik saya yang mungkin tidak mengalami masa-masa sulit seperti saya ketika saya kuliah dulu. Tapi saya bersyukur mengalami itu semua, karena itu yang menjadi cambuk bagi saya untuk terus maju. Ayah saya selalu bilang kepada saya, "peurih ieu teh matak jadi peurah". Artinya karena kepedihan yang saya alami, maka itu akan selalu menjadi cambuk bagi saya didalam menjalani semua permasalahan dalam hidup ini. Itu yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya sampai saat ini.




