Selasa, 12 Oktober 2010

Komputer Kedua

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai komputer pertama saya, pada posting kali ini saya akan mencoba menuliskan pengalaman saya mengenai komputer kedua saya. Ya, komputer ini merupakan komputer kedua saya setelah komputer pertama saya yang saya lupa-lupa ingat nasib kelanjutannya bagaimana. Yang jelas pada awal kuliah di STMB saya sudah tidak punya komputer lagi. Sementara kebutuhan pada saat itu menuntuk saya untuk menggunakan komputer. Untuk menyiasati kebutuhan saya tersebut, saya sering numpang di rumah bibi saya untuk menggunakan komputer. Tapi bagaimanapun saya bisa bebas menggunakan komputer di rumah bibi saya, tetap saja tidak senyaman menggunakan komputer sendiri. Terlebih saat itu saya sudah dimanja dengan kenikmatan menggunakan hardware yang diatas komputer lama saya, maka saya tidak akan nyaman menggunakan komputer dengan level hardware dibawah komputer yang biasa saya pakai saat itu.

Tidak mudah untuk mendapatkan komputer kedua ini, mengingat saat itu kondisi keuangan keluarga yang kurang baik, sehingga menyebabkan kebutuhan ini agak terbengkalai. Tapi Alhamdulillah, dengan segala macam cara, pada waktu itu ayah saya pada akhirnya bisa membantu saya membeli komputer kedua ini. Saya tidak ingat darimana uangnya, tapi yang jelas jika dilihat dari kondisi keuangan keluarga saya saat itu, ini merupakan pengorbanan yang sangat besar dari orang tua saya.

Untuk membeli komputer kedua ini tidak semudah ketika membeli komputer pertama. Komputer kedua ini dibeli secara ketengan. Perangkat yang pertama dibeli pada waktu itu adalah casing. Seingat saya uang untuk membeli casing ini adalah sisa dari membayar uang kuliah untuk semester 2. Berikut ini faktur pembelian casing komputer tersebut;



Casing tersebut saya beli di daerah segitiga mas, pusat pertokoan komputer di daerah Ahmad Yani, Bandung. Saya membeli casing itu sepulang kuliah naik angkot. Dan casing tersebut saya bisa bawa pulang dengan menggunakan motor. Tidak mudah loh untuk membawa casing dengan menggunakan motor, mengingat ukuran dari casing saat itu adalah casing tower ATX yang lumayan ribet jika dibawa dengan menggunakan motor.

Selepas membeli casing, beberapa hari kemudian saya membeli perangkat-perangkat lainnya. Perangkat lain ini saya beli berdua bersama ayah saya di daerah BEC (Bandung Electronic Center), dimana pada saat itu BEC ini masih baru dibuka. Saya ingat, saat itu hari minggu, saya berdua bersama ayah saya berangkat ke BEC pagi-pagi. Saya langsung menuju satu toko yang sudah saya tandai sebelumnya. Karena sebelum hari itu saya sudah sempat jalan-jalan ke BEC untuk membanding-bandingkan harga komputer disitu. Sampai di tempat yang dituju, akhirnya saya memesan untuk komputer dengan spesifikasi sebagai berikut;
  • Processor Athlon XP1700
  • Motherboard ECS K7S5A
  • Hard Disk Seagate 20GB 5400 RPM
  • VGA Card GeForce 2MX400 64MB
  • Memory VISIPRO 128 MB PC1200
berikut faktur dari pembelian komputer tersebut





sambil menunggu komputer tersebut selesai dirakit dan diinstall dengan sistem operasi, saya diajak oleh ayah saya untuk pergi ke sebuah penampungan monitor bekas di daerah pasar ancol. Saat itu saya memutuskan untuk membeli monitor bekas dengan harga 250 ribu, karena pertimbangan ekonomis. Mengingat saat itu harga sebuah monitor baru bisa mencapai 600 s/d 800 ribu rupiah atau bahkan lebih. Oleh karena itu, solusi membeli monitor bekas ini adalah solusi paling oke saat itu.

Selesai membeli monitor, saya berdua bersama ayah saya pulang membawa monitor tersebut dengan menggunakan motor (waktu itu kami belum mempunyai mobil). Sampai di rumah, simpan monitor tersebut dan kembali lagi ke BEC untuk membawa komputer yang selesai dirakit. Sampai di BEC kami teringat, ada satu hal yang belum kami beli saat itu, mouse. Tapi karena saat itu uang kami sangat pas-pas-an, kami urung membeli mouse tersebut, meskipun saat itu harga mouse hanya 20 ribuan. Akhirnya untuk menyiasati ketiadaan mouse tersebut, di tengah jalan saya menelepon teman saya untuk menanyakan komputer lamanya yang sudah tidak dipakai di gudang. Akhirnya berkat bantuan teman saya tersebut, saya bisa mengoperasikan komputer baru tersebut.

Sampai di rumah, komputer ini tidak begitu saja bisa berjalan mulus sebagaimana layaknya komputer baru. Monitor bekas yang saya beli ternyata tidak mampu bertahan lama, dua hari sejak dibeli, monitor tersebut mati total dan tidak bisa dipakai lagi. Akhirnya karena masa garansi kami pun menukar dengan monitor bekas lainnya. Tapi ada satu masalah, monitor yang bisa dipakai saat itu warnanya sudah kusam sekali. Tapi karena tidak ada pilihan lagi saat itu, maka akhirnya monitor berwarna kusam tersebutlah yang dibawa pulang. Setidaknya monitor tersebut mampu berfungsi dengan baik. Untuk mengatasi warnanya yang kusam, saya dan ayah saya membeli sekaleng cat semprot berwarna hitam dov, dan whoala! monitor kusam berubah warna menjadi hitam dov yang keren sekali. Sekedar catatan, monitor berwarna hitam saat itu harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan monitor biasa.

Komputer ini saya gunakan sampai dengan tahun 2005, sebelum akhirnya berpindah tangan ke adik sepupu saya. Dengan komputer ini saya menjalani semua kisah-kisah perjuangan semasa kuliah dulu. Kisah-kisah yang kadang saya harap adik-adik saya, atau bahkan anak saya nanti kelak tidak perlu mengalami pahitnya perjalanan hidup saya kala itu. Kadang, jika diingat-ingat lagi masa-masa itu, sedihnya bukan main. Terlebih jika melihat adik-adik saya yang mungkin tidak mengalami masa-masa sulit seperti saya ketika saya kuliah dulu. Tapi saya bersyukur mengalami itu semua, karena itu yang menjadi cambuk bagi saya untuk terus maju. Ayah saya selalu bilang kepada saya, "peurih ieu teh matak jadi peurah". Artinya karena kepedihan yang saya alami, maka itu akan selalu menjadi cambuk bagi saya didalam menjalani semua permasalahan dalam hidup ini. Itu yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya sampai saat ini.

Senin, 11 Oktober 2010

Gaji Pertama

September 2001 :) lupa-lupa ingat saya tanggalnya, tapi yang pasti saya mulai bekerja di tempat kerja pertama itu di awal bulan september 2001. Tempat kerja pertama saya adalah Warnet Biru, sebuah warnet yang lumayan besar saat itu dan dengan kecepatan yang lumayan paling cepat di Bandung untuk ukuran warnet pada saat itu. 256 Kbps!

Warnet Biru ini letaknya di pertigaan antara Jalan Setiabudhi dengan Jalan Gegerkalong Hilir. Warnet ini menyewa sebuah ruko berlantai 3, dimana lantai bawah difungsikan sebagai pusat jasa layanan internet, sementara di lantai 2 di fungsikan sebagai pusat jasa layanan penyewaan komputer dan print.

Waktu itu tugas pertama saya adalah sebagai operator rental komputer, dimana tugasnya selain memberikan assistensi bagi yang membutuhkan juga merangkap sebagai kasir di bagian tersebut. Sehingga sebagai operator rental ini saya diwajibkan menguasai teknik-teknik pemakaian perangkat lunak otomatisasi perkantoran yang terpasang di komputer rental. Hal ini mutlak perlu dikuasai karena seringkali pengunjung membutuhkan bantuan dari operator. Pengalaman dari tugas pertama ini saya rasakan sangat membantu saya di kemudian hari, karena saya banyak belajar juga mengenai tips & trik dari perangkat lunak otomatisasi perkantoran.

Beberapa hari bertugas sebagai operator rental komputer, akhirnya saya pun di percaya sebagai operator warnet. Karena berhubung waktu itu jumlah komputer yang disewakan sangat banyak (22 komputer), maka saya harus belajar dulu kepada rekan-rekan saya yang sudah lebih senior. Dan pada saat bertugas pertama pun saya tidak langsung dilepas sendiri, tapi ditemani oleh senior saya. Tugas dan tantangan bekerja di bagian ini lumayan berat karena permasalahan yang timbul pun jauh lebih sulit.

Waktu kerja di tempat pertama saya bekerja terbagi kedalam tiga shift, yaitu pagi (07.00 s/d 15.00) lalu siang (15.00 s/d 23.00) dan malam (23.00 s/d 07.00). Semua shift pernah saya coba rasakan, dan dari ketiga shift itu yang paling berat adalah shift malam, karena selain kita dituntut untuk begadang, kita juga dituntut untuk tetap sigap dalam menghadapi berbagai permasalahan. Selain itu yang paling berat adalah karena pada waktu itu saya harus membagi waktu saya dengan waktu kuliah. Sesuatu yang pada akhirnya gagal saya lakukan dan ada yang harus saya korbankan, yaitu kuliah. :(

Saya ingat, pada waktu itu ada yang berpandangan bahwa saya ini liar, pulang pagi pergi malam, kuliah berantakan dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, pekerjaan pertama ini sangat berarti, meskipun gajinya hanya cukup untuk makan saja, tapi ini merupakan awal dari perjalanan panjang saya. Saya tidak peduli dengan pandangan orang terhadap saya pada waktu itu. Bagi saya yang penting saya tidak mencuri, tidak menipu dan saya menggunakan apa yang saya bisa untuk mencari uang. Untuk mendapat pekerjaan inipun saya tidak pernah minta bantuan kepada seseorang untuk menggunakan pengaruhnya atau apapun itu namanya. Semuanya saya dapatkan dengan usaha saya sendiri. Dan itu yang membuat saya bersyukur, bahwa saya mampu untuk berusaha.

Jumat, 01 Oktober 2010

Mengejar Mimpi

Apa yang menjadi mimpi anda ketika anda masih kuliah? saya anda semua pasti mempunyai mimpi yang besar ketika muda. Entah itu ada yang berhasil mewujudkan mimpinya, entah itu tidak. Apapun itu, perjalanan hidup telah membawa saya pada satu kesimpulan, bukan hasil akhir dari mimpi itu yang menjadi penilaian kualitas diri anda, tapi apa yang telah anda lakukan untuk mewujudkan mimpi itu. Dan saya selalu meyakini itu.

Ketika saya masih kuliah, salah satu impian terbesar saya adalah mempunyai usaha sendiri. Tepatnya saat itu saya sangat ingin mempunyai usaha warnet sendiri. Saat itu saya berandai-andai, jika saya punya warnet sendiri maka saya akan menjual jasa layanan internet sebagai jasa utama dan jasa pengembangan web dan konsultasi IT sebagai layanan sekunder dari usaha saya. Hal itu semata-mata karena kedua bisnis tersebut bertumpu pada satu sumber daya, yaitu internet. Betapa saat itu saya menggebu-gebu sekali menginginkan untuk mempunyai bisnis ini, tapi ternyata akses permodalan saat itu sangat sulit bagi saya dan kebanyakan anak muda lainnya ketika akan memulai sebuah usaha.

Meskipun begitu, beberapa kali saya sempat berusaha sekuat tenaga saya untuk mendapatkan modal. Mulai dari keliling ke beberapa bank untuk mencari pinjaman sampai berusaha untuk menggadaikan motor orang tua saya. Saya masih ingat betapa hari itu saya bersemangat memacu motor vespa hitam saya menjelajahi kota untuk memburu bank-bank yang menyediakan fasilitas pinjaman lunak. Satu bank saya masuki, dan satu surat penolakan saya dapat. Begitu terus sampai akhirnya hari itu saya hapal dengan jawaban dari bank yang akan saya masuki. Rasanya kecewa sekali, mungkin saat itu credit advisor yang menilai proposal usaha saya tidak melihat saya kredibel untuk diberi kredit. Terlebih mungkin saat itu dandanan saya yang memakai jins butut, kemeja kusam dan muka lusuh semakin menambah kesan tidak kredibel saya.

Lepas dari usaha mencari modal ke bank yang menemui kegagalan. Saya berusaha mendapatkan modal dari angel investor. Tapi ternyata di luar perhitungan saya, upaya ini menimbulkan pertentangan di keluarga saya. Mungkin untuk alasan ini tidak akan saya jelaskan panjang lebar, singkat kata terjadi pertentangan di keluarga mengenai ide ini. Lepas dari angel investor, saya berusaha mendapatkan modal dari teman saya sendiri. Dimana saat itu teman saya sepakat untuk membuat kongsi bersama dengan saya. Saya pun bersemangat dengan hal ini, sampai tiba-tiba di tengah-tengah rencana yang sudah tersusun rapi teman saya ini membatalkan kesepakatan. Sakit hati dan kecewa rasanya. Tapi yah mau bagaimana lagi, nasib jadi orang gag punya yang banyak keinginan, resikonya ya kecewa.

Selain hal diatas, saya pun pernah memenangi sebuah lomba menyusun proposal bisnis tingkat nasional dengan iming-iming hadiah saat itu adalah akses ke lembaga permodalan sampai dengan ratusan juta rupiah. Sebuah jumlah yang lebih dari cukup bagi saya untuk memulai sebuah usaha warnet yang saya idam-idamkan. Akan tetapi, title sebagai pemenang lomba ternyata tetap tidak membuat saya kredibel di mata pemberi modal. Terlebih sebagai pengusaha yang akan mengawali usahanya. Lembaga permodalan lebih percaya kepada pihak yang sudah berjalan usahanya.

Kegagalan demi kegagalan saya dalam mendapatkan modal tidak lantas membuat saya kecewa saat itu. Justru saat itu saya belajar banyak dari kegagalan saya. Saat itu saya bertekad untuk sebisa mungkin sekuat tenaga saya bagaimana caranya membuat agar diri saya ini kredibel di mata pemberi modal. Agar kelak saya bisa mendapatkan pinjaman modal untuk memulai atau mengembangkan sebuah usaha. Hal ini pula yang menjadi motivasi saya ketika saya mencari pekerjaan. Saya berusaha mendapatkan stabilitas secara finansial untuk meraih status kredibel di pihak bank.

Saat ini saya masih suka gatal dengan ide-ide yang belum sempat terlaksana dulu. Entah kapan saya bisa membuat semua mimpi dan ide tersebut menjadi nyata. Tapi InsyaAllah, saya tidak akan pernah menyerah untuk mewujudkan semua ide dan impian saya. Mudah-mudahan lancar. Amien.