Senin, 06 Juni 2011

Handphone

Pertama kali saya memiliki Handphone kalau tidak salah akhir tahun 2001. Tapi yang jelas pada waktu itu handphone masih belum mewabah seperti sekarang. Dulu masih jarang orang yang pakai handphone. Saya juga masih ingat ketika saya masih kelas tiga SMA (tahun 2000), jika di kelas ada bunyi handphone pasti langsung disoraki oleh teman-teman sekelas. Malah waktu itu perangkat pager jauh lebih umum digunakan dari pada sebuah handphone. Akan tetapi baik pager maupun handphone bagi saya adalah sesuatu benda yang sangat mewah saat itu. Jangankan handphone, nomor perdana saja saat itu masih bisa dijual seharga ratusan ribu.

Ketika saya pertama kali bekerja dengan penghasilan tetap dan pada waktu itu handphone sudah mulai diterima di masyarakat dan sudah mulai dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Berbekal uang hasil bekerja selama satu bulan di sebuah warnet di Jalan Setiabudhi Bandung maka saya pun mencoba untuk membeli sebuah handphone. Bukan handphone baru dan bukan handphone kelas high end, tapi sebuah handphone low end bekas pakai milik sepupu saya. Handphone tersebut keluaran Siemens dengan type A 35. Handphone tersebut saya beli seharga 300 ribu rupiah. Handphone tersebut hanya bertahan sekitar beberapa bulan saja, sebelum akhirnya saya jual untuk saya tukar dengan handphone keluaran Siemens dengan type S-25.

Waktu itu handphone Siemens S-25 adalah handphone kelas bisnis dengan layar tiga warna. Cukup mewah jika dibandingkan dengan handphone Siemens A-35 yang pertama saya miliki. Untuk menambah gaya, pada waktu itu saya seringkali iseng-iseng mencari software yang dapat me-manage handphone tersebut. Mulai dari mengganti wallpaper atau sekadar menambah ringtone. Maklum, waktu itu masih belum zaman juga untuk mengganti wallpaper atau ringtone dengan mudah. Apalagi waktu itu masih jarang atau bahkan dikatakan tidak ada toko handphone yang menjual jasa jual beli ringtone atau wallpaper. Saya ingat, waktu itu hanya handphone-handphone type terbaru dan keluaran dari Nokia saja yang mampu mengganti-ganti ringtone dengan mudah. Cukup dengan memasukkan kode-kode ringtone tersebut ke dalam ringtone editor maka terciptalah sebuah ringtone. Bahkan pada waktu itu majalah-majalah sering menyediakan satu halaman khusus untuk kode-kode ringtone yang sedang hits.

Handphone Siemens S-25 tersebut saya pakai sampai awal saya kuliah. Karena setelah itu jika tidak salah saya sempat tidak mempunyai handphone. Pada waktu itu sempat saya diberi pinjam handphone Siemens S-1 milik ayah saya. Handphone tersebut adalah handphone testing untuk instalasi perangkat BTS milik ayah saya. Karena kalau tidak salah pada waktu itu ayah saya sedang mengerjakan project GSM milik Alcatel dan Siemens. Dan jangan salah, handphone tersebut berdimensi sangat besar, sangat kontras jika dibandingkan dengan model-model handphone yang waktu itu. Sebagai catatan pada waktu itu industri handphone berlomba-lomba mengeluarkan produk handphone terkecil dan tertipis. Tapi, lagi-lagi, hal itu di luar kemampuan saya. Saya tidak ingat sampai kapan persisnya saya tidak mempunyai handphone, tapi jika saya tidak salah di akhir tahun 2003 saya sudah mempunyai handphone Nokia dengan type 5110.

Memasuki tahun 2004 model handphone yang banyak beredar di pasaran adalah handphone dengan kemampuan mengambil gambar, mengirimkan MMS dan mempunyai ringtone polyphonic atau mp3. Dan tahun itu mulai banyak ditemui fenomena mengambil photo dengan menggunakan kamera handphone. Lalu apakah handphone Nokia 5110 saya bisa melakukan itu? tentu saja tidak. :)). Lalu bagaimana saya jika ingin mengambil photo dengan menggunakan kamera handphone? jangan mimpi! =)). Saya ingat, terakhir kali saya menggunakan handphone Nokia 5110 tersebut sampai akhir tahun 2004, kalau tidak salah sampai handphone tersebut mati setelah terjatuh karena dijadikan permainan oleh teman-teman saya. Kalau harus dibilang, sedih banget sih waktu itu, hanya gara-gara handphone saya tampak jadul sampai dijadikan mainan oleh teman-teman saya, dilempar-lempar sampai jatuh dan akhirnya mati. Tapi ya mau gimana lagi. Setelah itu sempat saya tidak mempunyai handphone lagi sampai akhir tahun 2004. Waktu itu handphone yang saya pakai adalah keluaran Nokia dengan type 1108. Dan handphone tersebut adalah handphone baru yang pertama kali saya miliki seumur-umur.

Handphone Nokia 1108 tersebut saya dapatkan dari seorang teman yang mungkin kasian melihat saya tidak mempunyai handphone. Terlebih pada waktu itu ada sebuah tagline dari salah satu operator telekomunikasi yang berbunyi "harree geenee gag punya hapeee". Selain itu, waktu itu saya mulai ikut dalam beberapa project dengan teman-teman saya. Dan teman saya tersebut mungkin akan sangat sulit untuk berkomunikasi dengan saya karena saya tidak memiliki handphone. Oleh karena itu tanpa banyak berpikir dia pun memberikan sebuah handphone baru bagi saya. Akan tetapi karena kesulitan ekonomi, handphone tersebut dengan sangat terpaksa saya jual untuk saya belikan CD-WRITER. Sebuah hal yang sangat disesali oleh saya sampai sekarang. Tapi waktu itu saya benar-benar terpaksa untuk menjual handphone tersebut, mengingat waktu itu saya harus berspekulasi untuk menjaga kesinambungan hidup saya dengan berjualan CD yang berisi lagu-lagu. Alias jadi pembajak karya orang lain. Sebuah profesi yang lumayan mendatangkan rupiah bagi saya kala itu. Kisah ini akan saya ceritakan dalam posting yang lain, karena ini merupakah kisah tersendiri.

Jika diingat-ingat lagi, handphone Nokia 1108 tersebut adalah handphone favorit saya selama saya menggunakan handphone. Bahkan sampai sekarang. Bentuknya candy bar dengan warna biru tua metalik dengan kelir warna abu-abu muda. Selain itu handphone tersebut dilengkapi dengan senter kecil yang menggunakan lampu led berwarna putih dan keypad anti air. Cukup bikin saya menyesal untuk menjual handphone tersebut sampai. Saya tidak ingat selepas itu saya memakai handphone apa, tapi yang jelas saya ingat adalah ketika saya magang di sebuah perusahaan konsultan IT di Bandung dan ditugaskan ke Kalimantan, karena disitulah saya membeli handphone lagi untuk keperluan pekerjaan saya. Handphone yang saya beli keluaran Nokia dengan type 1208, dengan harapan mewarisi kelebihan-kelebihan dari Nokia type 1108. Akan tetapi harapan tinggal harapan dan penyesalan selalu datang di akhir. Handphone Nokia type 1208 ini kalau tidak salah tidak saya pergunakan lama, karena beberapa bulan setelah itu saya jual kembali. Selepas handphone tersebut kalau tidak salah saya sempat membeli handphone motorolla type C155, saya tidak ingat berapa lama saya memakai handphone ini, tapi yang pasti lebih dari satu tahun sampai saya mulai bekerja di Jakarta.

Mungkin tidak semua handphone yang pernah saya miliki saya ceritakan di sini, karena saya sendiri pun sudah mulai lupa-lupa ingat, tapi yang jelas dari seluruh handphone yang pernah saya miliki, handphone-handphone tersebut diatas yang mempunyai kenangan bagi saya. Usaha untuk membeli handphone tersebut, lalu kenangan selama penggunaannya sampai kenangan pada saat harus menjual handphone tersebut. Tapi itu semua kenangan manis bagi saya. :)


Jumat, 20 Mei 2011

Bye bye Oregon

Bulan maret lalu saya mendapatkan satu panggilan telepon yang mengabarkan bahwa saya diundang untuk sebuah interview di sebuah kantor di bilangan Sudirman. Dan tidak tanggung-tanggung orang yang berada di ujung telepon langsung mengajukan sebuah pertanyaan "how good is your english?". Tebakan saya bahwa saya dipanggil oleh sebuah perusahaan asing ternyata terbukti ketika beberapa hari kemudian saya mendatangi interview tersebut.

Sebelum saya mendatangi interview tersebut saya menyiapkan diri saya dengan mengunduh beberapa materi mengenai perusahaan yang akan saya datangi, core business dan topik-topik lain yang relevan dengan kegiatan interview saya. Selain itu, saya juga mendatangi beberapa rekan saya untuk menanyakan mengenai topik-topik yang saya perkirakan akan muncul pada saat interview nanti. Sepanjang perjalanan saya habiskan untuk melahap semua topik bacaan tersebut, dengan tujuan agar saya tidak gagap ketika ditanya oleh interviewer.

Apa yang saya perkirakan mengenai topik-topik pertanyaan yang akan muncul pada saat interview ternyata menjadi kenyataan. Interviewer saya menjabat sebagai seorang Sales Director untuk wilayah Asia Pacific dengan kedudukan kantor di Kuala Lumpur, Malaysia. Interview berlangsung kurang lebih satu jam dengan topik-topik mengenai tugas dan tanggung jawab saya kelak apabila saya diterima di perusahaan tersebut. Selain tentu saja negosiasi mengenai benefit yang akan saya dapatkan jika saya diterima. Di luar seluruh benefit yang dibahas ketika interview, satu hal yang paling menarik dan menantang bagi saya adalah kewajiban saya untuk menjalani training di head quater perusahaan tersebut di Oregon (USA) dan wilayah operasional di seluruh Asia Pasific. Sebuah kesempatan yang sudah sangat saya tunggu-tunggu selama ini.

Selama ini, saya selalu menyimpan keinginan untuk bisa pergi dan bekerja di luar negeri. Dalam bayangan saya, saya bisa mendapatkan banyak hal baru, mulai dari bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang, belajar untuk bekerja dengan standard yang mengacu pada standard mereka, hidup di tempat yang jauh dari tanah kelahiran dan dari negara asal. Semua itu merupakan tantangan yang sangat ingin saya kalahkan. Sama seperti apa yang pernah saya alami ketika saya bekerja dengan beberapa orang dari Inggris dan Prancis ketika saya masih kuliah dulu. Dan berangkat dari pengalaman bekerja dengan mereka, saya mendapatkan banyak hal baru, sudut pandang baru dan etos kerja yang mengacu pada standard mereka.
Terlebih apabila saya berkomunikasi dengan teman-teman saya yang juga tinggal dan bekerja di luar negeri, keinginan saya semakin tak terbendung.

Waktu itu saya diberi waktu satu bulan untuk memutuskan apakah saya akan mengambil kesempatan ini atau tidak. Dan selama satu bulan tersebut saya intensif berkomunikasi dengan pihak kantor tersebut mengenai tugas, tanggung jawab dan benefit yang akan saya dapatkan. Selama satu bulan itu juga saya berkomunikasi intensif dengan keluarga saya mengenai kesempatan yang saya dapatkan tersebut. Apakah akan saya ambil atau tidak. Dan saya harus sudah mengambil keputusan pada tanggal 2 Mei 2011. Dan jika semuanya berjalan lancar, maka saya akan mulai bekerja mulai tanggal 1 bulan Juni 2011 dan mulai mempersiapkan keberangkatan saya ke Oregon, USA.

Akan tetapi dengan berbagai pertimbangan, saya akhirnya mengambil keputusan untuk menunda semua mimpi saya itu dengan alasan resiko yang saya akan ambil ketika itu saya nilai terlalu besar. Dan bagi saya, jika saya pribadi yang menanggung resiko sebesar itu maka tidak akan menjadi masalah bagi saya. Tapi saya tidak sanggup untuk mempertaruhkan orang-orang terdekat saya yang juga menaruh harapan besar pada saya. Saya tidak sanggup untuk mengorbankan mereka. Jadi pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil tawaran tersebut, dengan pertimbangan bahwa jika memang sudah waktunya maka pasti saya akan mendapatkan apa yang saya impikan selama ini. Bye-bye Oregon.

Selasa, 08 Februari 2011

Membaca

Salah satu hobi saya sejak dari kecil adalah membaca. Apapun saya baca, entah itu majalah, koran, atau apapun itu. Terlebih jika hal itu menarik perhatian saya untuk membaca. Ketika saya masih kecil, agar makan saya cepat habis harus selalu dibarengi dengan membaca. Sayang, hobi saya ini tidak dibarengi dengan kemampuan finansial yang cukup untuk membeli bahan bacaan yang saya inginkan. Tapi untuk menyiasati hal itu, ada banyak cara yang dapat saya lakukan agar saya tetap dapat membaca.

Ketika masih SMA, salah satu hobi saya adalah membaca majalah-majalah kemiliteran. Baik itu terbitan dari dalam negeri seperti TSM (Teknologi & Strategi Militer), Angkasa atau buletin-buletin internal TNI maupun terbitan luar negeri seperti Soldier of Fortune, Aeroplane, Combat Aircraft dlsb. Untuk bisa mendapatkan bahan bacaan tersebut saya biasa berburu di Pasar Buku Palasari, dimana disana saya mempunyai kenalan yang menjual buku-buku dan majalah bekas. Berburu buku dalam artian tidak untuk membeli, tapi untuk sekadar menumpang membaca saja. Maklum, kocek zaman SMA tidaklah banyak, FYI waktu SMA saya hanya diberi uang jajan sebesar 2000 rupiah saja, jelas tidak akan cukup untuk membeli majalah-majalah bekas, apalagi majalah baru. Kala itu saya bisa tahan berdiri berjam-jam lamanya hanya untuk sekadar membolak-balik lembaran majalah-majalah yang sudah kusam. Terkadang, jika uang saya berlebih saya bisa membeli satu atau dua majalah bekas tersebut. Lumayan, dari majalah-majalah tersebut saya bisa mendapatkan informasi mengenai pesawat-pesawat tempur atau profil pasukan khusus negara lain. Kala itu, selain informasi, saya juga sangat maniak mengumpulkan gambar-gambar mengenai kemiliteran. Jika saya menemukan informasi kemiliteran di koran atau majalah, sudah pasti saya gunting dan saya tempel di dalam kliping khusus saya. Maklum, kala itu saya belum mengenal internet seperti sekarang. Selepas SMA, hobi saya semakin menjadi-jadi. Ketika saya mengenal internet, saya bisa mendapatkan informasi kemiliteran yang saya inginkan. Dan hobi mengumpulkan potongan gambar berubah menjadi hobi mendapatkan gambar/photo beresolusi tinggi untuk sekadar dijadikan simpanan.

Ketika saya mulai kuliah, hobi membaca saya tidak surut. Bahkan mungkin topiknya semakin luas. Salah satu topik yang saya gemari ketika saya kuliah adalah informasi-informasi mengenai teknologi informasi dan telekomunikasi. Terlebih saat itu saya memang tengah menggandrungi kedua topik tersebut. Untuk mendapatkan informasi-informasi yang saya inginkan, seringkali saya nongkrong di stand-stand penjual koran dan majalah hanya untuk sekedar membolak-balik lembaran tabloid teknologi informasi dan telekomunikasi seperti KOMPUTEK, PCPLUS, CHIP dan lain-lain. Kala itu saya seringkali menyisihkan sebagian dari uang jajan saya untuk membeli tabloid-tabloid tersebut. Selain stand koran di pinggir jalan, saya juga sering mendatangi toko buku Gramedia, karena di toko buku Gramedia saya bisa sekadar membaca-baca buku yang menarik, meskipun saya tidak membeli :) ,maklum anggaran mahasiswa mana cukup untuk membeli buku-buku yang kala itu bisa seharga uang jajan saya selama satu bulan. Tapi walaupun begitu, saya cukup sering juga menyisihkan uang jajan saya untuk membeli buku-buku yang saya inginkan. Dan kalau uang saya tidak cukup, saya bisa cari buku yang sama di Pasar Buku Palasari di Bandung. Karena di Pasar Buku Palasari, saya bisa mendapatkan potongan harga sebesar 30% dari harga yang beredar di toko-toko buku besar. Cukup lumayan bukan?

Selain topik-topik mengenai teknologi informasi, telekomunikasi dan kemiliteran, salah satu topik menarik yang saya gandrungi adalah sejarah. Ketika saya membaca buku sejarah, saya merasa seperti masuk ke dalam dunia lain. Dan hal itu sangat menarik bagi saya. Nama-nama seperti Rosihan Anwar yang banyak menulis mengenai pengalamannya dalam berbagai kejadian penting di republik ini karena beliau merupakan pengamat sekaligus pelaku sejarah, atau Alwi Shahab yang hapal betul seluk beluk kota Jakarta dari dulu sampai sekarang atau Haryoto Kunto yang saya kenal melalui sejarah Bandung Tempo Dulu, semua tulisan mereka tak pernah saya lewatkan untuk saya baca. Bahkan keingintahuan saya mengenai sejarah sempat membuat saya susah, ketika itu saya sedang bertamu dan diajak ngobrol oleh tuan rumah, secara tidak sadar saya menemukan artikel menarik mengenai awak U-Boat Nazi Jerman yang terdampar di Sukabumi, dan secara refleks saya malah asyik membuka-buka koran tersebut. Sesuatu yang membuat saya susah saat itu :( , karena oleh tuan rumah saya dikatakan tidak sopan, tapi yah mau dikata apa, saya tidak melakukan hal itu dengan sengaja.

Membaca bagi saya sangat mengasyikkan, dan saya bisa membaca di mana saja dan kapan saja. Salah satu tempat favorit saya untuk membaca adalah di angkot. Karena di dalam angkot saya mempunyai waktu yang cukup banyak untuk membaca, terlebih ketika kuliah jarak tempuk naik angkot yang lumayan jauh cukup memberi saya waktu lebih untuk membaca. Waktu yang tepat untuk membaca di dalam angkot biasanya pada pagi hari, karena pada pagi hari otak masih cukup segar untuk menyerap semua bahan bacaan. Maka tidak heran ketika saya masih kuliah, jika tiba musim ujian, saya malah seringkali me-review bahan ujian saya di dalam angkot, bukannya di rumah. Bagi saya, buku merupakan benda yang sangat menarik, karena praktis untuk dibawa-bawa kemana saja dan mengasyikkan untuk dibaca. Meskipun teknologi digital sudah mulai mewabah di dalam kehidupan sehari-hari, buku tetap tidak tergantikan. Bagi saya lebih menarik membaca buku dibandingkan dengan membaca lembaran-lembaran digital. Aroma khas dari buku baru dan buku lama tidak akan dapat tergantikan.

Selasa, 12 Oktober 2010

Komputer Kedua

Menyambung tulisan sebelumnya mengenai komputer pertama saya, pada posting kali ini saya akan mencoba menuliskan pengalaman saya mengenai komputer kedua saya. Ya, komputer ini merupakan komputer kedua saya setelah komputer pertama saya yang saya lupa-lupa ingat nasib kelanjutannya bagaimana. Yang jelas pada awal kuliah di STMB saya sudah tidak punya komputer lagi. Sementara kebutuhan pada saat itu menuntuk saya untuk menggunakan komputer. Untuk menyiasati kebutuhan saya tersebut, saya sering numpang di rumah bibi saya untuk menggunakan komputer. Tapi bagaimanapun saya bisa bebas menggunakan komputer di rumah bibi saya, tetap saja tidak senyaman menggunakan komputer sendiri. Terlebih saat itu saya sudah dimanja dengan kenikmatan menggunakan hardware yang diatas komputer lama saya, maka saya tidak akan nyaman menggunakan komputer dengan level hardware dibawah komputer yang biasa saya pakai saat itu.

Tidak mudah untuk mendapatkan komputer kedua ini, mengingat saat itu kondisi keuangan keluarga yang kurang baik, sehingga menyebabkan kebutuhan ini agak terbengkalai. Tapi Alhamdulillah, dengan segala macam cara, pada waktu itu ayah saya pada akhirnya bisa membantu saya membeli komputer kedua ini. Saya tidak ingat darimana uangnya, tapi yang jelas jika dilihat dari kondisi keuangan keluarga saya saat itu, ini merupakan pengorbanan yang sangat besar dari orang tua saya.

Untuk membeli komputer kedua ini tidak semudah ketika membeli komputer pertama. Komputer kedua ini dibeli secara ketengan. Perangkat yang pertama dibeli pada waktu itu adalah casing. Seingat saya uang untuk membeli casing ini adalah sisa dari membayar uang kuliah untuk semester 2. Berikut ini faktur pembelian casing komputer tersebut;



Casing tersebut saya beli di daerah segitiga mas, pusat pertokoan komputer di daerah Ahmad Yani, Bandung. Saya membeli casing itu sepulang kuliah naik angkot. Dan casing tersebut saya bisa bawa pulang dengan menggunakan motor. Tidak mudah loh untuk membawa casing dengan menggunakan motor, mengingat ukuran dari casing saat itu adalah casing tower ATX yang lumayan ribet jika dibawa dengan menggunakan motor.

Selepas membeli casing, beberapa hari kemudian saya membeli perangkat-perangkat lainnya. Perangkat lain ini saya beli berdua bersama ayah saya di daerah BEC (Bandung Electronic Center), dimana pada saat itu BEC ini masih baru dibuka. Saya ingat, saat itu hari minggu, saya berdua bersama ayah saya berangkat ke BEC pagi-pagi. Saya langsung menuju satu toko yang sudah saya tandai sebelumnya. Karena sebelum hari itu saya sudah sempat jalan-jalan ke BEC untuk membanding-bandingkan harga komputer disitu. Sampai di tempat yang dituju, akhirnya saya memesan untuk komputer dengan spesifikasi sebagai berikut;
  • Processor Athlon XP1700
  • Motherboard ECS K7S5A
  • Hard Disk Seagate 20GB 5400 RPM
  • VGA Card GeForce 2MX400 64MB
  • Memory VISIPRO 128 MB PC1200
berikut faktur dari pembelian komputer tersebut





sambil menunggu komputer tersebut selesai dirakit dan diinstall dengan sistem operasi, saya diajak oleh ayah saya untuk pergi ke sebuah penampungan monitor bekas di daerah pasar ancol. Saat itu saya memutuskan untuk membeli monitor bekas dengan harga 250 ribu, karena pertimbangan ekonomis. Mengingat saat itu harga sebuah monitor baru bisa mencapai 600 s/d 800 ribu rupiah atau bahkan lebih. Oleh karena itu, solusi membeli monitor bekas ini adalah solusi paling oke saat itu.

Selesai membeli monitor, saya berdua bersama ayah saya pulang membawa monitor tersebut dengan menggunakan motor (waktu itu kami belum mempunyai mobil). Sampai di rumah, simpan monitor tersebut dan kembali lagi ke BEC untuk membawa komputer yang selesai dirakit. Sampai di BEC kami teringat, ada satu hal yang belum kami beli saat itu, mouse. Tapi karena saat itu uang kami sangat pas-pas-an, kami urung membeli mouse tersebut, meskipun saat itu harga mouse hanya 20 ribuan. Akhirnya untuk menyiasati ketiadaan mouse tersebut, di tengah jalan saya menelepon teman saya untuk menanyakan komputer lamanya yang sudah tidak dipakai di gudang. Akhirnya berkat bantuan teman saya tersebut, saya bisa mengoperasikan komputer baru tersebut.

Sampai di rumah, komputer ini tidak begitu saja bisa berjalan mulus sebagaimana layaknya komputer baru. Monitor bekas yang saya beli ternyata tidak mampu bertahan lama, dua hari sejak dibeli, monitor tersebut mati total dan tidak bisa dipakai lagi. Akhirnya karena masa garansi kami pun menukar dengan monitor bekas lainnya. Tapi ada satu masalah, monitor yang bisa dipakai saat itu warnanya sudah kusam sekali. Tapi karena tidak ada pilihan lagi saat itu, maka akhirnya monitor berwarna kusam tersebutlah yang dibawa pulang. Setidaknya monitor tersebut mampu berfungsi dengan baik. Untuk mengatasi warnanya yang kusam, saya dan ayah saya membeli sekaleng cat semprot berwarna hitam dov, dan whoala! monitor kusam berubah warna menjadi hitam dov yang keren sekali. Sekedar catatan, monitor berwarna hitam saat itu harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan monitor biasa.

Komputer ini saya gunakan sampai dengan tahun 2005, sebelum akhirnya berpindah tangan ke adik sepupu saya. Dengan komputer ini saya menjalani semua kisah-kisah perjuangan semasa kuliah dulu. Kisah-kisah yang kadang saya harap adik-adik saya, atau bahkan anak saya nanti kelak tidak perlu mengalami pahitnya perjalanan hidup saya kala itu. Kadang, jika diingat-ingat lagi masa-masa itu, sedihnya bukan main. Terlebih jika melihat adik-adik saya yang mungkin tidak mengalami masa-masa sulit seperti saya ketika saya kuliah dulu. Tapi saya bersyukur mengalami itu semua, karena itu yang menjadi cambuk bagi saya untuk terus maju. Ayah saya selalu bilang kepada saya, "peurih ieu teh matak jadi peurah". Artinya karena kepedihan yang saya alami, maka itu akan selalu menjadi cambuk bagi saya didalam menjalani semua permasalahan dalam hidup ini. Itu yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya sampai saat ini.

Senin, 11 Oktober 2010

Gaji Pertama

September 2001 :) lupa-lupa ingat saya tanggalnya, tapi yang pasti saya mulai bekerja di tempat kerja pertama itu di awal bulan september 2001. Tempat kerja pertama saya adalah Warnet Biru, sebuah warnet yang lumayan besar saat itu dan dengan kecepatan yang lumayan paling cepat di Bandung untuk ukuran warnet pada saat itu. 256 Kbps!

Warnet Biru ini letaknya di pertigaan antara Jalan Setiabudhi dengan Jalan Gegerkalong Hilir. Warnet ini menyewa sebuah ruko berlantai 3, dimana lantai bawah difungsikan sebagai pusat jasa layanan internet, sementara di lantai 2 di fungsikan sebagai pusat jasa layanan penyewaan komputer dan print.

Waktu itu tugas pertama saya adalah sebagai operator rental komputer, dimana tugasnya selain memberikan assistensi bagi yang membutuhkan juga merangkap sebagai kasir di bagian tersebut. Sehingga sebagai operator rental ini saya diwajibkan menguasai teknik-teknik pemakaian perangkat lunak otomatisasi perkantoran yang terpasang di komputer rental. Hal ini mutlak perlu dikuasai karena seringkali pengunjung membutuhkan bantuan dari operator. Pengalaman dari tugas pertama ini saya rasakan sangat membantu saya di kemudian hari, karena saya banyak belajar juga mengenai tips & trik dari perangkat lunak otomatisasi perkantoran.

Beberapa hari bertugas sebagai operator rental komputer, akhirnya saya pun di percaya sebagai operator warnet. Karena berhubung waktu itu jumlah komputer yang disewakan sangat banyak (22 komputer), maka saya harus belajar dulu kepada rekan-rekan saya yang sudah lebih senior. Dan pada saat bertugas pertama pun saya tidak langsung dilepas sendiri, tapi ditemani oleh senior saya. Tugas dan tantangan bekerja di bagian ini lumayan berat karena permasalahan yang timbul pun jauh lebih sulit.

Waktu kerja di tempat pertama saya bekerja terbagi kedalam tiga shift, yaitu pagi (07.00 s/d 15.00) lalu siang (15.00 s/d 23.00) dan malam (23.00 s/d 07.00). Semua shift pernah saya coba rasakan, dan dari ketiga shift itu yang paling berat adalah shift malam, karena selain kita dituntut untuk begadang, kita juga dituntut untuk tetap sigap dalam menghadapi berbagai permasalahan. Selain itu yang paling berat adalah karena pada waktu itu saya harus membagi waktu saya dengan waktu kuliah. Sesuatu yang pada akhirnya gagal saya lakukan dan ada yang harus saya korbankan, yaitu kuliah. :(

Saya ingat, pada waktu itu ada yang berpandangan bahwa saya ini liar, pulang pagi pergi malam, kuliah berantakan dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, pekerjaan pertama ini sangat berarti, meskipun gajinya hanya cukup untuk makan saja, tapi ini merupakan awal dari perjalanan panjang saya. Saya tidak peduli dengan pandangan orang terhadap saya pada waktu itu. Bagi saya yang penting saya tidak mencuri, tidak menipu dan saya menggunakan apa yang saya bisa untuk mencari uang. Untuk mendapat pekerjaan inipun saya tidak pernah minta bantuan kepada seseorang untuk menggunakan pengaruhnya atau apapun itu namanya. Semuanya saya dapatkan dengan usaha saya sendiri. Dan itu yang membuat saya bersyukur, bahwa saya mampu untuk berusaha.

Jumat, 01 Oktober 2010

Mengejar Mimpi

Apa yang menjadi mimpi anda ketika anda masih kuliah? saya anda semua pasti mempunyai mimpi yang besar ketika muda. Entah itu ada yang berhasil mewujudkan mimpinya, entah itu tidak. Apapun itu, perjalanan hidup telah membawa saya pada satu kesimpulan, bukan hasil akhir dari mimpi itu yang menjadi penilaian kualitas diri anda, tapi apa yang telah anda lakukan untuk mewujudkan mimpi itu. Dan saya selalu meyakini itu.

Ketika saya masih kuliah, salah satu impian terbesar saya adalah mempunyai usaha sendiri. Tepatnya saat itu saya sangat ingin mempunyai usaha warnet sendiri. Saat itu saya berandai-andai, jika saya punya warnet sendiri maka saya akan menjual jasa layanan internet sebagai jasa utama dan jasa pengembangan web dan konsultasi IT sebagai layanan sekunder dari usaha saya. Hal itu semata-mata karena kedua bisnis tersebut bertumpu pada satu sumber daya, yaitu internet. Betapa saat itu saya menggebu-gebu sekali menginginkan untuk mempunyai bisnis ini, tapi ternyata akses permodalan saat itu sangat sulit bagi saya dan kebanyakan anak muda lainnya ketika akan memulai sebuah usaha.

Meskipun begitu, beberapa kali saya sempat berusaha sekuat tenaga saya untuk mendapatkan modal. Mulai dari keliling ke beberapa bank untuk mencari pinjaman sampai berusaha untuk menggadaikan motor orang tua saya. Saya masih ingat betapa hari itu saya bersemangat memacu motor vespa hitam saya menjelajahi kota untuk memburu bank-bank yang menyediakan fasilitas pinjaman lunak. Satu bank saya masuki, dan satu surat penolakan saya dapat. Begitu terus sampai akhirnya hari itu saya hapal dengan jawaban dari bank yang akan saya masuki. Rasanya kecewa sekali, mungkin saat itu credit advisor yang menilai proposal usaha saya tidak melihat saya kredibel untuk diberi kredit. Terlebih mungkin saat itu dandanan saya yang memakai jins butut, kemeja kusam dan muka lusuh semakin menambah kesan tidak kredibel saya.

Lepas dari usaha mencari modal ke bank yang menemui kegagalan. Saya berusaha mendapatkan modal dari angel investor. Tapi ternyata di luar perhitungan saya, upaya ini menimbulkan pertentangan di keluarga saya. Mungkin untuk alasan ini tidak akan saya jelaskan panjang lebar, singkat kata terjadi pertentangan di keluarga mengenai ide ini. Lepas dari angel investor, saya berusaha mendapatkan modal dari teman saya sendiri. Dimana saat itu teman saya sepakat untuk membuat kongsi bersama dengan saya. Saya pun bersemangat dengan hal ini, sampai tiba-tiba di tengah-tengah rencana yang sudah tersusun rapi teman saya ini membatalkan kesepakatan. Sakit hati dan kecewa rasanya. Tapi yah mau bagaimana lagi, nasib jadi orang gag punya yang banyak keinginan, resikonya ya kecewa.

Selain hal diatas, saya pun pernah memenangi sebuah lomba menyusun proposal bisnis tingkat nasional dengan iming-iming hadiah saat itu adalah akses ke lembaga permodalan sampai dengan ratusan juta rupiah. Sebuah jumlah yang lebih dari cukup bagi saya untuk memulai sebuah usaha warnet yang saya idam-idamkan. Akan tetapi, title sebagai pemenang lomba ternyata tetap tidak membuat saya kredibel di mata pemberi modal. Terlebih sebagai pengusaha yang akan mengawali usahanya. Lembaga permodalan lebih percaya kepada pihak yang sudah berjalan usahanya.

Kegagalan demi kegagalan saya dalam mendapatkan modal tidak lantas membuat saya kecewa saat itu. Justru saat itu saya belajar banyak dari kegagalan saya. Saat itu saya bertekad untuk sebisa mungkin sekuat tenaga saya bagaimana caranya membuat agar diri saya ini kredibel di mata pemberi modal. Agar kelak saya bisa mendapatkan pinjaman modal untuk memulai atau mengembangkan sebuah usaha. Hal ini pula yang menjadi motivasi saya ketika saya mencari pekerjaan. Saya berusaha mendapatkan stabilitas secara finansial untuk meraih status kredibel di pihak bank.

Saat ini saya masih suka gatal dengan ide-ide yang belum sempat terlaksana dulu. Entah kapan saya bisa membuat semua mimpi dan ide tersebut menjadi nyata. Tapi InsyaAllah, saya tidak akan pernah menyerah untuk mewujudkan semua ide dan impian saya. Mudah-mudahan lancar. Amien.

Selasa, 28 September 2010

Penghuni Lab Komputer

Dulu sekitar awal tahun 2003, untuk mendapatkan koneksi internet tidak seperti sekarang ini. Pada waktu itu koneksi internet hanya bisa didapatkan di warnet-warnet yang pada waktu itu posisinya jauh dari kampus atau di kantor-kantor yang sudah memasang fasilitas internet. Itupun kecepatannya tidak seperti sekarang ini. Rata-rata pada waktu itu koneksi internet yang ada hanya 56 Kbps dengan menggunakan dial up modem. Sedangkan untuk jenis koneksi yang dipasang di kantoran dan warnet rata-rata dengan menggunakan leased line dengan kecepatan rata-rata berkisar antara 64 Kbps s/d 256 Kbps. Kondisi seperti itu pun bisa dikatakan sangat jarang ditemui. Jangan bertanya tentang fasilitas WiFi atau fasilitas internet gratis seperti yang bisa dengan mudah ditemui di berbagai kampus atau di berbagai tempat publik seperti sekarang ini. Pada waktu itu teknologi tersebut masih baru akan berkembang dan masih menjadi perdebatan di forum-forum diskusi.

Untuk menyiasati kebutuhan internet saya saat itu, saya seringkali bergaul dengan orang kampus di bagian perlengkapan yang kelak menjadi partner saya, David namanya. Melalui David ini saya bisa dengan bebas menggunakan fasilitas kampus yang sebenarnya bisa dibilang tertutup untuk mahasiswa. Jangan bilang warnet, saat itu mengeluarkan uang 5000 rupiah per jam untuk mendapatkan koneksi internet bagi saya adalah terbilang mahal, dikarenakan keuangan saya yang sangat terbatas. Oleh karena itu, solusi bergaul dengan orang kampus adalah solusi yang sangat brilian saat itu. Melalui David ini, saya diberi akses untuk menggunakan fasilitas laboratorium komputer milik kampus yang ironisnya bagi saya saat itu, tidak boleh digunakan oleh mahasiswa.

Laboratorium komputer milik kampus ini terletak di lantai 3 gedung kampus STMB yang terletak di Gegerkalong Hilir. Pada waktu itu kampus ini masih terbilang sepi kegiatan, karena mahasiswanya rata-rata per angkatan hanya 50 orang. Dan kegiatan belajar mengajar semuanya dipusatkan di lantai 4 untuk S1, dan lantai 2 untuk kegiatan administrasi dan belajar mengajar S2. Oleh karena itu lantai 3 ini terkenal sebagai lantai yang jarang digunakan dan jarang dimasuki oleh mahasiswa. Tapi demi mendapatkan akses internet gratis, saya bela-belain untuk melawan semua rasa takut dan khawatir itu, walaupun saat itu kecepatan akses yang saya dapatkan tidak lebih dari 56 Kbps dengan menggunakan dial up modem. Bagi saya saat itu jika sudah mendengar atau merasakan hal-hal aneh, saya cukup menjejali telinga saya dengan ear phone atau mengencangkan volume dari speaker, sehingga yang terdengar hanya suara keras dari MP3 yang diputar.

Seringkali ketika saya bosan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas, saya kabur dari kelas dan masuk ke lab komputer ini. Entah untuk sekadar membuka-buka forum, mailing list atau chatting dengan teman-teman dengan menggunakan Yahoo Messenger atau IRC. Ya, jangan bilang social networking semacam Facebook, Friendster, Twitter atau apapun namanya, karena saat itu media seperti ini belum begitu hits dan terkenal. Saat itu untuk bisa mendownload 1 file MP3 saja senangnya bukan main.

Selain hal diatas, hal-hal yang saya lakukan ketika saya berada di lab komputer adalah belajar sepuas-puasnya, apapun yang ingin saya ketahui, meskipun hal itu tidak berkaitan dengan kuliah saya tapi saya gag pernah ambil pusing dengan itu semua. Bahkan seringkali ketika teman-teman saya sibuk dengan tugas-tugas kuliah, saya malah asik-asik mencoba mainan crimping tools dan ethernet tester. Untuk mengetahui perkembangan terkini dari teknologi sangat menarik dan jauh lebih menarik dibandingkan dengan apa yang sedang in di pergaulan saat itu. Saat itu saya bangga untuk menjadi yang pertama kali memakai thumb drive / flash disk seukuran jempol dengan kapasitas 32 MB, karena pada waktu itu orang-orang masih berkutat dengan disket-disketnya.

Kadang kalau dipikir-pikir, masa-masa seperti itu rasanya tidak akan pernah terulang lagi. Saat itu rasanya ringan sekali untuk mengambil keputusan. Hidup rasanya jauh lebih mudah saat itu. :)