Pertama kali saya memiliki Handphone kalau tidak salah akhir tahun 2001. Tapi yang jelas pada waktu itu handphone masih belum mewabah seperti sekarang. Dulu masih jarang orang yang pakai handphone. Saya juga masih ingat ketika saya masih kelas tiga SMA (tahun 2000), jika di kelas ada bunyi handphone pasti langsung disoraki oleh teman-teman sekelas. Malah waktu itu perangkat pager jauh lebih umum digunakan dari pada sebuah handphone. Akan tetapi baik pager maupun handphone bagi saya adalah sesuatu benda yang sangat mewah saat itu. Jangankan handphone, nomor perdana saja saat itu masih bisa dijual seharga ratusan ribu.
Ketika saya pertama kali bekerja dengan penghasilan tetap dan pada waktu itu handphone sudah mulai diterima di masyarakat dan sudah mulai dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Berbekal uang hasil bekerja selama satu bulan di sebuah warnet di Jalan Setiabudhi Bandung maka saya pun mencoba untuk membeli sebuah handphone. Bukan handphone baru dan bukan handphone kelas high end, tapi sebuah handphone low end bekas pakai milik sepupu saya. Handphone tersebut keluaran Siemens dengan type A 35. Handphone tersebut saya beli seharga 300 ribu rupiah. Handphone tersebut hanya bertahan sekitar beberapa bulan saja, sebelum akhirnya saya jual untuk saya tukar dengan handphone keluaran Siemens dengan type S-25.
Waktu itu handphone Siemens S-25 adalah handphone kelas bisnis dengan layar tiga warna. Cukup mewah jika dibandingkan dengan handphone Siemens A-35 yang pertama saya miliki. Untuk menambah gaya, pada waktu itu saya seringkali iseng-iseng mencari software yang dapat me-manage handphone tersebut. Mulai dari mengganti wallpaper atau sekadar menambah ringtone. Maklum, waktu itu masih belum zaman juga untuk mengganti wallpaper atau ringtone dengan mudah. Apalagi waktu itu masih jarang atau bahkan dikatakan tidak ada toko handphone yang menjual jasa jual beli ringtone atau wallpaper. Saya ingat, waktu itu hanya handphone-handphone type terbaru dan keluaran dari Nokia saja yang mampu mengganti-ganti ringtone dengan mudah. Cukup dengan memasukkan kode-kode ringtone tersebut ke dalam ringtone editor maka terciptalah sebuah ringtone. Bahkan pada waktu itu majalah-majalah sering menyediakan satu halaman khusus untuk kode-kode ringtone yang sedang hits.
Handphone Siemens S-25 tersebut saya pakai sampai awal saya kuliah. Karena setelah itu jika tidak salah saya sempat tidak mempunyai handphone. Pada waktu itu sempat saya diberi pinjam handphone Siemens S-1 milik ayah saya. Handphone tersebut adalah handphone testing untuk instalasi perangkat BTS milik ayah saya. Karena kalau tidak salah pada waktu itu ayah saya sedang mengerjakan project GSM milik Alcatel dan Siemens. Dan jangan salah, handphone tersebut berdimensi sangat besar, sangat kontras jika dibandingkan dengan model-model handphone yang waktu itu. Sebagai catatan pada waktu itu industri handphone berlomba-lomba mengeluarkan produk handphone terkecil dan tertipis. Tapi, lagi-lagi, hal itu di luar kemampuan saya. Saya tidak ingat sampai kapan persisnya saya tidak mempunyai handphone, tapi jika saya tidak salah di akhir tahun 2003 saya sudah mempunyai handphone Nokia dengan type 5110.
Memasuki tahun 2004 model handphone yang banyak beredar di pasaran adalah handphone dengan kemampuan mengambil gambar, mengirimkan MMS dan mempunyai ringtone polyphonic atau mp3. Dan tahun itu mulai banyak ditemui fenomena mengambil photo dengan menggunakan kamera handphone. Lalu apakah handphone Nokia 5110 saya bisa melakukan itu? tentu saja tidak. :)). Lalu bagaimana saya jika ingin mengambil photo dengan menggunakan kamera handphone? jangan mimpi! =)). Saya ingat, terakhir kali saya menggunakan handphone Nokia 5110 tersebut sampai akhir tahun 2004, kalau tidak salah sampai handphone tersebut mati setelah terjatuh karena dijadikan permainan oleh teman-teman saya. Kalau harus dibilang, sedih banget sih waktu itu, hanya gara-gara handphone saya tampak jadul sampai dijadikan mainan oleh teman-teman saya, dilempar-lempar sampai jatuh dan akhirnya mati. Tapi ya mau gimana lagi. Setelah itu sempat saya tidak mempunyai handphone lagi sampai akhir tahun 2004. Waktu itu handphone yang saya pakai adalah keluaran Nokia dengan type 1108. Dan handphone tersebut adalah handphone baru yang pertama kali saya miliki seumur-umur.
Handphone Nokia 1108 tersebut saya dapatkan dari seorang teman yang mungkin kasian melihat saya tidak mempunyai handphone. Terlebih pada waktu itu ada sebuah tagline dari salah satu operator telekomunikasi yang berbunyi "harree geenee gag punya hapeee". Selain itu, waktu itu saya mulai ikut dalam beberapa project dengan teman-teman saya. Dan teman saya tersebut mungkin akan sangat sulit untuk berkomunikasi dengan saya karena saya tidak memiliki handphone. Oleh karena itu tanpa banyak berpikir dia pun memberikan sebuah handphone baru bagi saya. Akan tetapi karena kesulitan ekonomi, handphone tersebut dengan sangat terpaksa saya jual untuk saya belikan CD-WRITER. Sebuah hal yang sangat disesali oleh saya sampai sekarang. Tapi waktu itu saya benar-benar terpaksa untuk menjual handphone tersebut, mengingat waktu itu saya harus berspekulasi untuk menjaga kesinambungan hidup saya dengan berjualan CD yang berisi lagu-lagu. Alias jadi pembajak karya orang lain. Sebuah profesi yang lumayan mendatangkan rupiah bagi saya kala itu. Kisah ini akan saya ceritakan dalam posting yang lain, karena ini merupakah kisah tersendiri.
Jika diingat-ingat lagi, handphone Nokia 1108 tersebut adalah handphone favorit saya selama saya menggunakan handphone. Bahkan sampai sekarang. Bentuknya candy bar dengan warna biru tua metalik dengan kelir warna abu-abu muda. Selain itu handphone tersebut dilengkapi dengan senter kecil yang menggunakan lampu led berwarna putih dan keypad anti air. Cukup bikin saya menyesal untuk menjual handphone tersebut sampai. Saya tidak ingat selepas itu saya memakai handphone apa, tapi yang jelas saya ingat adalah ketika saya magang di sebuah perusahaan konsultan IT di Bandung dan ditugaskan ke Kalimantan, karena disitulah saya membeli handphone lagi untuk keperluan pekerjaan saya. Handphone yang saya beli keluaran Nokia dengan type 1208, dengan harapan mewarisi kelebihan-kelebihan dari Nokia type 1108. Akan tetapi harapan tinggal harapan dan penyesalan selalu datang di akhir. Handphone Nokia type 1208 ini kalau tidak salah tidak saya pergunakan lama, karena beberapa bulan setelah itu saya jual kembali. Selepas handphone tersebut kalau tidak salah saya sempat membeli handphone motorolla type C155, saya tidak ingat berapa lama saya memakai handphone ini, tapi yang pasti lebih dari satu tahun sampai saya mulai bekerja di Jakarta.
Mungkin tidak semua handphone yang pernah saya miliki saya ceritakan di sini, karena saya sendiri pun sudah mulai lupa-lupa ingat, tapi yang jelas dari seluruh handphone yang pernah saya miliki, handphone-handphone tersebut diatas yang mempunyai kenangan bagi saya. Usaha untuk membeli handphone tersebut, lalu kenangan selama penggunaannya sampai kenangan pada saat harus menjual handphone tersebut. Tapi itu semua kenangan manis bagi saya. :)




