Jumat, 20 Mei 2011

Bye bye Oregon

Bulan maret lalu saya mendapatkan satu panggilan telepon yang mengabarkan bahwa saya diundang untuk sebuah interview di sebuah kantor di bilangan Sudirman. Dan tidak tanggung-tanggung orang yang berada di ujung telepon langsung mengajukan sebuah pertanyaan "how good is your english?". Tebakan saya bahwa saya dipanggil oleh sebuah perusahaan asing ternyata terbukti ketika beberapa hari kemudian saya mendatangi interview tersebut.

Sebelum saya mendatangi interview tersebut saya menyiapkan diri saya dengan mengunduh beberapa materi mengenai perusahaan yang akan saya datangi, core business dan topik-topik lain yang relevan dengan kegiatan interview saya. Selain itu, saya juga mendatangi beberapa rekan saya untuk menanyakan mengenai topik-topik yang saya perkirakan akan muncul pada saat interview nanti. Sepanjang perjalanan saya habiskan untuk melahap semua topik bacaan tersebut, dengan tujuan agar saya tidak gagap ketika ditanya oleh interviewer.

Apa yang saya perkirakan mengenai topik-topik pertanyaan yang akan muncul pada saat interview ternyata menjadi kenyataan. Interviewer saya menjabat sebagai seorang Sales Director untuk wilayah Asia Pacific dengan kedudukan kantor di Kuala Lumpur, Malaysia. Interview berlangsung kurang lebih satu jam dengan topik-topik mengenai tugas dan tanggung jawab saya kelak apabila saya diterima di perusahaan tersebut. Selain tentu saja negosiasi mengenai benefit yang akan saya dapatkan jika saya diterima. Di luar seluruh benefit yang dibahas ketika interview, satu hal yang paling menarik dan menantang bagi saya adalah kewajiban saya untuk menjalani training di head quater perusahaan tersebut di Oregon (USA) dan wilayah operasional di seluruh Asia Pasific. Sebuah kesempatan yang sudah sangat saya tunggu-tunggu selama ini.

Selama ini, saya selalu menyimpan keinginan untuk bisa pergi dan bekerja di luar negeri. Dalam bayangan saya, saya bisa mendapatkan banyak hal baru, mulai dari bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang, belajar untuk bekerja dengan standard yang mengacu pada standard mereka, hidup di tempat yang jauh dari tanah kelahiran dan dari negara asal. Semua itu merupakan tantangan yang sangat ingin saya kalahkan. Sama seperti apa yang pernah saya alami ketika saya bekerja dengan beberapa orang dari Inggris dan Prancis ketika saya masih kuliah dulu. Dan berangkat dari pengalaman bekerja dengan mereka, saya mendapatkan banyak hal baru, sudut pandang baru dan etos kerja yang mengacu pada standard mereka.
Terlebih apabila saya berkomunikasi dengan teman-teman saya yang juga tinggal dan bekerja di luar negeri, keinginan saya semakin tak terbendung.

Waktu itu saya diberi waktu satu bulan untuk memutuskan apakah saya akan mengambil kesempatan ini atau tidak. Dan selama satu bulan tersebut saya intensif berkomunikasi dengan pihak kantor tersebut mengenai tugas, tanggung jawab dan benefit yang akan saya dapatkan. Selama satu bulan itu juga saya berkomunikasi intensif dengan keluarga saya mengenai kesempatan yang saya dapatkan tersebut. Apakah akan saya ambil atau tidak. Dan saya harus sudah mengambil keputusan pada tanggal 2 Mei 2011. Dan jika semuanya berjalan lancar, maka saya akan mulai bekerja mulai tanggal 1 bulan Juni 2011 dan mulai mempersiapkan keberangkatan saya ke Oregon, USA.

Akan tetapi dengan berbagai pertimbangan, saya akhirnya mengambil keputusan untuk menunda semua mimpi saya itu dengan alasan resiko yang saya akan ambil ketika itu saya nilai terlalu besar. Dan bagi saya, jika saya pribadi yang menanggung resiko sebesar itu maka tidak akan menjadi masalah bagi saya. Tapi saya tidak sanggup untuk mempertaruhkan orang-orang terdekat saya yang juga menaruh harapan besar pada saya. Saya tidak sanggup untuk mengorbankan mereka. Jadi pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil tawaran tersebut, dengan pertimbangan bahwa jika memang sudah waktunya maka pasti saya akan mendapatkan apa yang saya impikan selama ini. Bye-bye Oregon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar