Selasa, 08 Februari 2011

Membaca

Salah satu hobi saya sejak dari kecil adalah membaca. Apapun saya baca, entah itu majalah, koran, atau apapun itu. Terlebih jika hal itu menarik perhatian saya untuk membaca. Ketika saya masih kecil, agar makan saya cepat habis harus selalu dibarengi dengan membaca. Sayang, hobi saya ini tidak dibarengi dengan kemampuan finansial yang cukup untuk membeli bahan bacaan yang saya inginkan. Tapi untuk menyiasati hal itu, ada banyak cara yang dapat saya lakukan agar saya tetap dapat membaca.

Ketika masih SMA, salah satu hobi saya adalah membaca majalah-majalah kemiliteran. Baik itu terbitan dari dalam negeri seperti TSM (Teknologi & Strategi Militer), Angkasa atau buletin-buletin internal TNI maupun terbitan luar negeri seperti Soldier of Fortune, Aeroplane, Combat Aircraft dlsb. Untuk bisa mendapatkan bahan bacaan tersebut saya biasa berburu di Pasar Buku Palasari, dimana disana saya mempunyai kenalan yang menjual buku-buku dan majalah bekas. Berburu buku dalam artian tidak untuk membeli, tapi untuk sekadar menumpang membaca saja. Maklum, kocek zaman SMA tidaklah banyak, FYI waktu SMA saya hanya diberi uang jajan sebesar 2000 rupiah saja, jelas tidak akan cukup untuk membeli majalah-majalah bekas, apalagi majalah baru. Kala itu saya bisa tahan berdiri berjam-jam lamanya hanya untuk sekadar membolak-balik lembaran majalah-majalah yang sudah kusam. Terkadang, jika uang saya berlebih saya bisa membeli satu atau dua majalah bekas tersebut. Lumayan, dari majalah-majalah tersebut saya bisa mendapatkan informasi mengenai pesawat-pesawat tempur atau profil pasukan khusus negara lain. Kala itu, selain informasi, saya juga sangat maniak mengumpulkan gambar-gambar mengenai kemiliteran. Jika saya menemukan informasi kemiliteran di koran atau majalah, sudah pasti saya gunting dan saya tempel di dalam kliping khusus saya. Maklum, kala itu saya belum mengenal internet seperti sekarang. Selepas SMA, hobi saya semakin menjadi-jadi. Ketika saya mengenal internet, saya bisa mendapatkan informasi kemiliteran yang saya inginkan. Dan hobi mengumpulkan potongan gambar berubah menjadi hobi mendapatkan gambar/photo beresolusi tinggi untuk sekadar dijadikan simpanan.

Ketika saya mulai kuliah, hobi membaca saya tidak surut. Bahkan mungkin topiknya semakin luas. Salah satu topik yang saya gemari ketika saya kuliah adalah informasi-informasi mengenai teknologi informasi dan telekomunikasi. Terlebih saat itu saya memang tengah menggandrungi kedua topik tersebut. Untuk mendapatkan informasi-informasi yang saya inginkan, seringkali saya nongkrong di stand-stand penjual koran dan majalah hanya untuk sekedar membolak-balik lembaran tabloid teknologi informasi dan telekomunikasi seperti KOMPUTEK, PCPLUS, CHIP dan lain-lain. Kala itu saya seringkali menyisihkan sebagian dari uang jajan saya untuk membeli tabloid-tabloid tersebut. Selain stand koran di pinggir jalan, saya juga sering mendatangi toko buku Gramedia, karena di toko buku Gramedia saya bisa sekadar membaca-baca buku yang menarik, meskipun saya tidak membeli :) ,maklum anggaran mahasiswa mana cukup untuk membeli buku-buku yang kala itu bisa seharga uang jajan saya selama satu bulan. Tapi walaupun begitu, saya cukup sering juga menyisihkan uang jajan saya untuk membeli buku-buku yang saya inginkan. Dan kalau uang saya tidak cukup, saya bisa cari buku yang sama di Pasar Buku Palasari di Bandung. Karena di Pasar Buku Palasari, saya bisa mendapatkan potongan harga sebesar 30% dari harga yang beredar di toko-toko buku besar. Cukup lumayan bukan?

Selain topik-topik mengenai teknologi informasi, telekomunikasi dan kemiliteran, salah satu topik menarik yang saya gandrungi adalah sejarah. Ketika saya membaca buku sejarah, saya merasa seperti masuk ke dalam dunia lain. Dan hal itu sangat menarik bagi saya. Nama-nama seperti Rosihan Anwar yang banyak menulis mengenai pengalamannya dalam berbagai kejadian penting di republik ini karena beliau merupakan pengamat sekaligus pelaku sejarah, atau Alwi Shahab yang hapal betul seluk beluk kota Jakarta dari dulu sampai sekarang atau Haryoto Kunto yang saya kenal melalui sejarah Bandung Tempo Dulu, semua tulisan mereka tak pernah saya lewatkan untuk saya baca. Bahkan keingintahuan saya mengenai sejarah sempat membuat saya susah, ketika itu saya sedang bertamu dan diajak ngobrol oleh tuan rumah, secara tidak sadar saya menemukan artikel menarik mengenai awak U-Boat Nazi Jerman yang terdampar di Sukabumi, dan secara refleks saya malah asyik membuka-buka koran tersebut. Sesuatu yang membuat saya susah saat itu :( , karena oleh tuan rumah saya dikatakan tidak sopan, tapi yah mau dikata apa, saya tidak melakukan hal itu dengan sengaja.

Membaca bagi saya sangat mengasyikkan, dan saya bisa membaca di mana saja dan kapan saja. Salah satu tempat favorit saya untuk membaca adalah di angkot. Karena di dalam angkot saya mempunyai waktu yang cukup banyak untuk membaca, terlebih ketika kuliah jarak tempuk naik angkot yang lumayan jauh cukup memberi saya waktu lebih untuk membaca. Waktu yang tepat untuk membaca di dalam angkot biasanya pada pagi hari, karena pada pagi hari otak masih cukup segar untuk menyerap semua bahan bacaan. Maka tidak heran ketika saya masih kuliah, jika tiba musim ujian, saya malah seringkali me-review bahan ujian saya di dalam angkot, bukannya di rumah. Bagi saya, buku merupakan benda yang sangat menarik, karena praktis untuk dibawa-bawa kemana saja dan mengasyikkan untuk dibaca. Meskipun teknologi digital sudah mulai mewabah di dalam kehidupan sehari-hari, buku tetap tidak tergantikan. Bagi saya lebih menarik membaca buku dibandingkan dengan membaca lembaran-lembaran digital. Aroma khas dari buku baru dan buku lama tidak akan dapat tergantikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar