Selasa, 28 September 2010

Penghuni Lab Komputer

Dulu sekitar awal tahun 2003, untuk mendapatkan koneksi internet tidak seperti sekarang ini. Pada waktu itu koneksi internet hanya bisa didapatkan di warnet-warnet yang pada waktu itu posisinya jauh dari kampus atau di kantor-kantor yang sudah memasang fasilitas internet. Itupun kecepatannya tidak seperti sekarang ini. Rata-rata pada waktu itu koneksi internet yang ada hanya 56 Kbps dengan menggunakan dial up modem. Sedangkan untuk jenis koneksi yang dipasang di kantoran dan warnet rata-rata dengan menggunakan leased line dengan kecepatan rata-rata berkisar antara 64 Kbps s/d 256 Kbps. Kondisi seperti itu pun bisa dikatakan sangat jarang ditemui. Jangan bertanya tentang fasilitas WiFi atau fasilitas internet gratis seperti yang bisa dengan mudah ditemui di berbagai kampus atau di berbagai tempat publik seperti sekarang ini. Pada waktu itu teknologi tersebut masih baru akan berkembang dan masih menjadi perdebatan di forum-forum diskusi.

Untuk menyiasati kebutuhan internet saya saat itu, saya seringkali bergaul dengan orang kampus di bagian perlengkapan yang kelak menjadi partner saya, David namanya. Melalui David ini saya bisa dengan bebas menggunakan fasilitas kampus yang sebenarnya bisa dibilang tertutup untuk mahasiswa. Jangan bilang warnet, saat itu mengeluarkan uang 5000 rupiah per jam untuk mendapatkan koneksi internet bagi saya adalah terbilang mahal, dikarenakan keuangan saya yang sangat terbatas. Oleh karena itu, solusi bergaul dengan orang kampus adalah solusi yang sangat brilian saat itu. Melalui David ini, saya diberi akses untuk menggunakan fasilitas laboratorium komputer milik kampus yang ironisnya bagi saya saat itu, tidak boleh digunakan oleh mahasiswa.

Laboratorium komputer milik kampus ini terletak di lantai 3 gedung kampus STMB yang terletak di Gegerkalong Hilir. Pada waktu itu kampus ini masih terbilang sepi kegiatan, karena mahasiswanya rata-rata per angkatan hanya 50 orang. Dan kegiatan belajar mengajar semuanya dipusatkan di lantai 4 untuk S1, dan lantai 2 untuk kegiatan administrasi dan belajar mengajar S2. Oleh karena itu lantai 3 ini terkenal sebagai lantai yang jarang digunakan dan jarang dimasuki oleh mahasiswa. Tapi demi mendapatkan akses internet gratis, saya bela-belain untuk melawan semua rasa takut dan khawatir itu, walaupun saat itu kecepatan akses yang saya dapatkan tidak lebih dari 56 Kbps dengan menggunakan dial up modem. Bagi saya saat itu jika sudah mendengar atau merasakan hal-hal aneh, saya cukup menjejali telinga saya dengan ear phone atau mengencangkan volume dari speaker, sehingga yang terdengar hanya suara keras dari MP3 yang diputar.

Seringkali ketika saya bosan dengan kegiatan belajar mengajar di kelas, saya kabur dari kelas dan masuk ke lab komputer ini. Entah untuk sekadar membuka-buka forum, mailing list atau chatting dengan teman-teman dengan menggunakan Yahoo Messenger atau IRC. Ya, jangan bilang social networking semacam Facebook, Friendster, Twitter atau apapun namanya, karena saat itu media seperti ini belum begitu hits dan terkenal. Saat itu untuk bisa mendownload 1 file MP3 saja senangnya bukan main.

Selain hal diatas, hal-hal yang saya lakukan ketika saya berada di lab komputer adalah belajar sepuas-puasnya, apapun yang ingin saya ketahui, meskipun hal itu tidak berkaitan dengan kuliah saya tapi saya gag pernah ambil pusing dengan itu semua. Bahkan seringkali ketika teman-teman saya sibuk dengan tugas-tugas kuliah, saya malah asik-asik mencoba mainan crimping tools dan ethernet tester. Untuk mengetahui perkembangan terkini dari teknologi sangat menarik dan jauh lebih menarik dibandingkan dengan apa yang sedang in di pergaulan saat itu. Saat itu saya bangga untuk menjadi yang pertama kali memakai thumb drive / flash disk seukuran jempol dengan kapasitas 32 MB, karena pada waktu itu orang-orang masih berkutat dengan disket-disketnya.

Kadang kalau dipikir-pikir, masa-masa seperti itu rasanya tidak akan pernah terulang lagi. Saat itu rasanya ringan sekali untuk mengambil keputusan. Hidup rasanya jauh lebih mudah saat itu. :)

Sabtu, 25 September 2010

Ingin Punya Vespa Lagi

Dulu saya sempat punya vespa, tepatnya sekira tahun 2004. Waktu itu pakai vespa ini karena tidak ada pilihan lain. Vespa yang saya pakai adalah vespa bekas pakai dari adik saya. Karena pada waktu itu adik saya sudah bosan dengan vespa nya, maka dia beralih untuk ngutak-ngatik motor shogun saya.

Vespa turunan dari adik saya ini keluaran tahun 1982 jenis PS-150 berwarna hitam. Jangan dikira vespa yang saya punya saat itu adalah vespa bagus dan mulus layaknya vespa milik para kolektor. Vespa saya saat itu mungkin dari segi mesin saat itu termasuk mulus, karena jarang mogok dan agak rajin dirawat. Sementara dari bodi dan kelengkapan... :) mungkin bisa dibilang menyedihkan. Vespa saya itu sudah tidak punya jok belakang, hanya ada jok depan saja. Selain itu tidak ada juga lampu sign, lalu kondisi lampu depan sudah begitu redup dan tidak ditutup oleh dop. Rem depan dicopot, sebagai pengaman hanya disediakan rem injak di bagian bawah. Singkat kata, pokoknya menyedihkan lah.

Tapi saat itu saya tidak merasa malu untuk memakainya. Saya selalu memakai vespa tersebut kemana-mana. Untuk pergi ke kampus, ke kantor (kerja sambilan :D ), atau kemana saja. Saya tidak malu untuk menawarkan boncengan saya ke siapapun yang membutuhkan. Mau itu laki-laki atau perempuan. Kalau teman laki-laki sih mungkin ditawari boncengan mereka tidak akan pikir panjang lagi, langsung hayu aja naik. Berbeda dengan teman perempuan, sebagian ada yang menolak dengan halus dan sebagian lagi ada yang mungkin menjauh jika saya sudah mendekat dengan vespa hitamnya T.T

Selama saya pakai vespa, saya tidak pernah mengalami masalah berarti. Sekali-kalinya saya mengalami masalah itu sewaktu kabel gas putus. Dan karena saat itu saya kurang begitu paham dengan masalah ini saya nekat saja bawa vespa itu pulang ke rumah dengan cara mendorongnya. Bukan 1 kilo atau 2 kilo, tapi saya mendorongnya sampai 19 kilo! dari Jalan Naripan Bandung sampai ke rumah saya di Dayeuh Kolot. Banyak yang berhenti untuk sekedar nawarin bantuan bahkan ada yang nawarin untuk menderek motor saya. Tapi uluran bantuan mereka saya tolak karena tidak ingin merepotkan mereka. Selain itu jika ada razia polisi atau ada pemeriksaan surat-surat, polisi tidak pernah ada yang menilang atau memberhentikan vespa saya. Padahal saat itu saya sering lupa bawa surat-surat.

Selain masalah di atas, secara teknis saya mengakui kehebatan mesin 2 tak 150cc keluaran vespa ini. Motor ini termasuk handal untuk dibawa berjalan-jalan menjajal tanjakan. Meskipun secara bahan bakar termasuk boros. Tapi secara keseluruhan, motor ini layak untuk dijadikan koleksi.

Kalau diingat-ingat lagi, seringkali saya tergoda untuk ingin memiliki lagi motor seperti ini. Tidak muluk-muluk, Vespa PS 150 tahun 1982 saja sudah cukup.

Jumat, 24 September 2010

Kerja Sambilan

Saya teringat kisah si kirimaru dalam komik ninja rantaro. Kirimaru adalah seorang anak yang ditinggal kedua orang tuanya sehingga harus berjuang bekerja sambilan untuk bertahan hidup. Kirimaru ini terkenal lemah dengan kata "uang", "gratis", "murah" dlsb. Mungkin kalau diingat-ingat sifat saya ini mirip si Kirimaru. Meskipun tidak sampai pada tahap yang parah. Saya hanya sampai pada taraf kerja sambilan untuk mendapatkan uang. Dan hal ini sudah terbiasa saya lakukan sejak saya SMA.

Ketika SMA, kerja sambilan yang saya lakukan adalah dengan berjualan pesawat telepon dan rekaman MP3 ke dalam kaset. Pesawat telepontersebut saya bawa ke sekolah dengan memasukkan ke dalam ransel/backpack layaknya seorang yang mau naik gunung. Dengan cara ini saya tidak malu menenteng-nenteng ransel berisi pesawat telepon sebanyak berkota-kotak. Sebuah pesawat telepon saya dapatkan dengan harga 100 ribu dan saya jual dengan harga 115 s/d 125 ribu. Pesawat telepon ini saya tawarkan ke teman-teman saya dan kepada guru-guru di sekolah. Tidak pernah terpikir malu oleh saya ketika saya masuk ke ruang guru dan menjelaskan teknis pesawat telepon tersebut. Saya juga tidak malu ketika saya datang ke rumah teman saya, menjelaskan dan memasangkan pesawat telepon tersebut. Meskipun teman-teman saya meneriaki saya sebagai tukang telepon, saya tidak juga merasa malu, kala itu yang terpikir oleh saya hanya perasaan senang. Senang, karena saya bisa pegang uang sampai dengan puluhan ribu rupiah. Sebuah jumlah yang cukup banyak bagi saya saat itu.

Ketika saya mulai kuliah di tahun 2000, berjualan rekaman MP3 ke dalam kaset adalah bisnis yang cukup populer. Karena kaset masih merupakan barang yang berharga saat itu dan semua orang masih punya kaset player di rumah atau di kamarnya. Jangan bicara tentang MP3 player, jangan bicara tentang iPOD atau bahkan HP yang ada pemutar musiknya. Waktu itu hanya ada pemutar kaset dan radio portabel, atau lebih dikenal sebagai walkman. Dan bisnis ini saya jalani dengan menjual rekaman MP3 ke dalam kaset kepada adik-adik kelas saya di SMA dan rekan-rekan mahasiswa di STT Telkom. Untuk berjualan kaset ini ke SMA saya berpartner dengan seorang adik kelas saya Ira, dimana saya menjual kaset tersebut seharga 8 ribu rupiah. Sementara untuk penjualan di kampus STT Telkom saya dibantu oleh teman saya Sulton dari STT Telkom. Dimana harga yang saya berikan adalah 10 ribu rupiah. Keuntungan dari penjualan kaset tersebut sangat lumayan bagi saya saat itu. Karena saya hanya mengeluarkan modal 4 ribu rupiah untuk sebuah kaset kosong dengan kapasitas 90 menit dan modal tahan begadang selama bermalam-malam.

Ketika saya kuliah di STMB, bisnis sampingan yang saya jalani mulai beragam. Mulai dari membuatkan tugas makalah kuliah bagi teman-teman sekelas seharga 15 ribu rupiah per eksemplar, jasa kursus komputer seharga 30 ribu rupiah per satu sesi :), jasa installasi dan service komputer, jasa penyewaan server dan penjualan nama domain, jasa menjual sms broadcast sampai kepada jasa pembuatan dan installasi web site. Dimana untuk dua pekerjaan sambilan terakhir cukup menambah tebal uang saku saya saat itu :). Ada kejadian lucu untuk jenis bisnis sms broadcast.

Jasa SMS broadcast ini pada waktu itu (tahun 2005) kurang begitu populer di tanah air. Hal ini karena pada waktu itu bisnis ini masih tergolong baru. Jasa ini memungkinkan orang untuk mengirimkan SMS secara bersamaan ke banyak nomor sekaligus. Selain itu, nomor pengirim bisa dirubah menjadi karakter alphanumerik atau karakter huruf dan angka. Persis seperti spam SMS broadcast yang kita terima dari operator saat ini. Pada waktu itu saya menjual jasa sms broadcast ini kepada pihak kampus sebagai sarana pengumuman kelulusan pendaftaran mahasiswa baru, dimana selain mendapatkan surat resmi dari kampus, mahasiswa juga mendapatkan kiriman SMS mengenai status kelulusan mereka. Lulus atau tidak lulus. Nah disini letak kelucuannya. Pada waktu itu saya harus mengirimkan SMS ini ke 500 nomor sekaligus pada malam hari untuk menghindari traffic overload. Berhubung pada saat pengiriman saya sudah agag setengah mengantuk, saya salah memasukkan nomor penerima, dimana saat itu saya memasukkan beberapa nomor yang seharusnya lulus malah dimasukkan kedalam kelompok nomor tidak lulus. Seperti diduga, orang-orang tersebut mendapatkan berita yang berbeda, di SMS disebutkan tidak lulus, tapi surat kelulusan mereka terima. Tentu saja hal ini membingungkan, dan hasilnya saya dimarahi oleh pihak kampus akibat keteledoran ini.

Selain hal di atas, sebenarnya masih banyak kesalahan-kesalahan yang saya buat selama saya bekerja sambilan. Dimarahi oleh pelanggan, komplain dan hal-hal yang tidak mengenakkan cukup sering saya terima. Tapi saya tidak pernah bersedih karena masalah itu dan saya juga tidak menyesalinya. Bagi saya itu adalah sarana pembelajaran hidup yang teramat penting. Saya bersyukur pernah mengalami hal tersebut. Meskipun saya tidak pernah menginginkan kelak anak saya meniru cara saya, tapi saya harap kelak anak saya dapat belajar dari apa yang telah saya jalani.

Masa Yang Hilang

Beberapa waktu lalu saya memperhatikan sebuah album di facebook. Album itu milik salah seorang teman saya ketika saya kuliah di Unpas dulu. Ya, sebelum saya kuliah di STMB, saya sempat terdaftar dan kuliah selama 1 semester di Unpas untuk jurusan Teknik Informatika. Sebelum pada akhirnya saya mengambil sebuah keputusan untuk mengundurkan diri dari Unpas dan mendaftar di STMB. Sebuah keputusan yang teramat berat saya ambil ketika itu. Karena konsekuensi yang saya hadapi pada saat itu adalah saya harus kembali berseberangan dengan keluarga besar saya kala itu. Bahkan dengan teman-teman saya sendiri saat itu. Tapi, lagi-lagi orang yang mau mengerti keadaan saya, hanya ibu saya.

Keputusan untuk mengambil kuliah di Unpas jurusan Teknik Informatika saat itu saya ambil karena pada waktu itu saya sudah terlanjur bergelut di bidang teknologi informasi selepas saya mengambil kursus IT di QCollege. Oleh karena itu saya berharap saya bisa memperdalam pengetahuan saya mengenai IT di kampus ini. Berbekal harapan tersebut, saya pun mendaftar menjadi mahasiswa baru di kampus ini.

Satu hal yang tidak saya pertimbangkan pada saat itu, saya masih buta dengan keadaan dunia kampus ini pada umumnya, saya tidak meminta pendapat teman-teman saya yang sudah terlebih dulu kuliah di sini. Saya saat itu hanya main daftar saja tanpa mencari informasi yang jelas mengenai gambaran umum kampus ini. Sebagai akibatnya, saya mengalami gegar budaya. Dimana sebelumnya ketika saya masih kursus di QCollege, saya dididik layaknya sebagai professional mandiri yang siap pakai, sementara di kampus ini saya harus belajar kembali menjadi mahasiswa baru yang didoktrin tentang loyalitas, kebersamaan dan kekompakkan sebagai sebuah kelompok. Satu hal yang berseberangan dengan keinginan saya saat itu yang ingin lebih memperdalam ilmu saya mengenai konsep teknologi informasi dibandingkan hal-hal dasar mengenai sebuah organisasi kemahasiswaan. Hal ini yang menjadi dasar pembangkangan saya terhadap sistem saat itu. Selain itu, budaya mahasiswa angkatan atas yang menurut saya feodal saat itu semakin menambah ketidak sukaan saya terhadap sistem yang ada.

Keadaan di atas diperparah dengan keputusan saya untuk bekerja sebagai operator part timer di sebuah warnet. Cerita mengenai warnet ini akan saya tulis di posting berikutnya. Di warnet ini ternyata selain saya bisa bekerja, tapi saya juga merasa bisa mempraktekkan apa yang saya pelajari selama saya kursus teknologi informasi sebelumnya, karena di warnet ini saya terhubung dengan fasilitas internet 24 jam dengan kecepatan tinggi. Sebuah godaan yang menggiurkan saat itu. Selain itu, saya juga banyak mendapatkan masukan dari rekan-rekan kerja saya yang kebetulan adalah mahasiswa di STMB. Mereka banyak memberikan masukan mengenai peluang-peluang di teknologi informasi dan telekomunikasi, dan menurut mereka itu bisa saya dapatkan di STMB.

Kombinasi dari keadaan diatas rupanya memberi pengaruh cukup buruk bagi saya saat itu. Ya, sebagai operator part timer saya mempunyai jatah bekerja sebanyak 1 shift (8 jam) sehari. Dan selain itu saya juga harus mengatur waktu dan jadwal kuliah saya. Ketidak seimbangan saya didalam mengatur waktu ditambah motivasi yang buruk membuat saya semakin setengah hati di dalam menjalani kuliah saya di Unpas. Semakin hari rasanya semakin buruk. Mulai dari mencoba untuk mengambil jatah bolos sebanyak 1 kali, ditambah 1 lagi dan lagi dan lagi sampai akhirnya bolos untuk sisa semester. Ketidak beresan ini rupanya tercium oleh keluarga saya, dimana pada akhirnya ayah saya memberikan pilihan, kuliah atau kerja sebagai penjaga warnet? dan saya pun menjawab bekerja sebagai penjaga warnet. Sebuah keputusan yang tentu saja mendatangkan reaksi keras dari berbagai pihak.

Tapi mungkin karena memang dasar saya adalah sebagai pemberontak, saya pun berontak dengan kecaman dari keluarga saya. Siapapun saya lawan saat itu, tanpa pernah saya menyadari sedikitpun bahwa mereka itu sayang dan perhatian sama saya. Keras kepala ya saya? sesuatu yang kadang saya malu sampai saat ini. Pada akhirnya karena kerasnya tekanan dari keluarga, saya pun mencoba untuk kembali ke jalan yang mereka inginkan. Tapi mungkin karena masih setengah hati menjalani, sebuah insiden kecil mewarnai, saya naik motor sampai nabrak orang. Sebuah insiden yang sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya saya tidak keras kepala. Selepas kejadian itu, ibu saya menyadari bahwa saya tidak bisa menjalani keadaan ini secara terpaksa. Dan akhirnya ayah saya pun angkat bicara dan menanyakan rencana saya selanjutnya. Dengan mantap saya berkata, saya ingin masuk ke STMB. Tanpa menanyakan alasannya, ayah saya bilang satu perkataan yang menjadi cambuk motivasi saya saat itu. "Silahkan kamu ikuti keinginan kamu, tapi seandainya kamu berhenti di tengah jalan karena saya sudah tidak sanggup lagi untuk membiayai kamu, kamu jangan sakit hati".

Akhirnya dengan mantap saya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari kampus lama dan mendaftar di kampus STMB. Sebuah keputusan yang saya rasa cukup berat bagi saya saat itu karena tentangan dari berbagai pihak tapi tidak pernah saya sesali sampai detik ini. Dan satu hal yang selalu menjadi motivasi utama bagi saya, dukungan dari ibu saya. Ibu saya bilang kalau ini memang harus menjadi jalan saya, maka jalani dengan sepenuh hati dan jangan pernah menyesal.

Sampai saat ini, saya merasa 2001 s/d 2002 adalah masa-masa yang hilang di dalam kehidupan saya. Ketika beberapa hari yang lalu saya melihat album kebersamaan teman-teman saya di Unpas seolah-olah saya terkenang kembali masa-masa penuh pertarungan batin tersebut. Seandainya saya tidak mengambil keputusan itu, mungkin saya akan menjadi bagian dari photo2 tersebut. Tapi saya tidak menyesali itu semua, saya bahagia dengan keputusan saya, dan saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari masa-masa itu.

Mahasiswa Setengah Gembel

Judul dari postingan ini ada kaitannya dengan judul dari blog ini secara keseluruhan. Setengah gembel, dimana maksud dari setengah gembel ini adalah untuk menggambarkan kondisi yang saya alami ketika saya kuliah dulu. Kata gembel ini saya ambil dari kebiasaan saya menggembel di kossan teman-teman saya ketika kuliah dulu, karena pada masa itu jarak antara rumah dan kampus saya yang lumayan jauh dan lumayan memakan ongkos sehingga memaksa saya untuk sebisa mungkin menghemat pengeluaran transportasi saya. Dan salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan menggembel numpang di kossan teman-teman saya. Disebut setengah gembel karena pada waktu itu saya masih punya rumah dan masih punya orang tua yang membiayai.

Sebagai perhitungan, pada waktu itu ongkos yang harus saya keluarkan dari rumah sampai ke kampus adalah sekitar 18 ribu rupiah pergi pulang, sementara saya hanya diberi uang harian hanya sebesar 20 ribu rupiah. Sisa 2 ribu rupiah itu yang harus saya siasati gimana caranya agar perut saya tetap kenyang. Oleh karena itu seringkali saya meminta uang kepada orang tua saya untuk 3 hari sekaligus, dimana saya tidak akan pulang lagi selama 3 hari kedepannya.

Tapi hal di atas tidak bisa sering-sering saya lakukan, karena pada masa saya kuliah keadaan ekonomi keluarga saya pun tidak begitu baik. Ayah saya hanya seorang teknisi kelas rendah di sebuah kantor BUMN dengan gaji sebesar 700 ribu rupiah, jumlah itu sudah dikurangi berbagai macam pinjaman dan cicilan. Sementara saat itu ayah saya harus membiayai 3 orang anaknya sekolah, dimana 2 diantaranya kuliah, yaitu saya dan adik saya. Sebagai bahan renungan, biaya kuliah saya saat itu adalah 1,75 juta rupiah dan adik saya adalah 2,5 juta rupiah per semesternya. Oleh karena itu, ibu saya seringkali memutar otaknya untuk menyiasati keadaan kami yang serba kekurangan pada waktu itu. Sampai saat ini, keberanian ayah saya dan ibu saya didalam menghadapi keadaan kami yang serba kekurangan dan keputusan untuk tetap menyekolahkan kami adalah sebuah keputusan paling berani di dalam hidup saya, dan saya mengagumi mereka karena itu. Mengenai apa yang ibu dan ayah saya lakukan didalam menyiasati keadaan akan saya ceritakan didalam posting terpisah.

Menyadari bahwa saya adalah mahasiswa yang berada di dekat garis kemiskinan :) , maka beragam cara harus saya lakukan agar saya tetap bisa kuliah, bisa tetap makan dan bisa tetap berprestasi :D, dan seperti saya ceritakan sebelumnya, menggembel menjadi salah satu hal yang saya sering lakukan. Saat itu saya seringkali menumpang di kossan Bowo, salah seorang sahabat terbaik saya sampai sekarang. Kossan bowo pada waktu itu terletak di daerah Budi Luhur, daerah yang berdekatan dengan kampus saya di Gegerkalong. Kenapa saya hobi menggembel di sini? karena di kossan ini suasananya paling enak menurut saya. Udaranya dingin, kamarnya luas, tempat tidurnya hangat dan yang pasti si bowo ini sahabat saya yang paling klop kalo masalah curhat dan cerita-cerita. Selain menumpang di kossan bowo, tentu saja saya juga sering meminjam uang. Tidak banyak-banyak, hanya sekitar 5 sampai dengan 10 ribu, cukup untuk mengganjal perut. Bahkan pernah kami berdua hanya punya uang 10 ribu rupiah lagi untuk sisa tiga hari kedepan, dimana pada waktu itu kami bingung harus makan apa dengan uang 10 ribu tersebut :D.

Kossan lain yang sering saya gembeli saat itu adalah kontrakan teman-teman saya di daerah Cipedes atas. Disebut kontrakan karena saat itu teman-teman saya sebanyak 5 orang mengontrak sebuah rumah dan ditinggali bersama-sama. Rumah ini menjadi favorit tujuan para gembel-gembel seperti saya karena jam bukanya. Rumah ini selalu terbuka bagi siapa saja yang kemalaman di jalan dan membutuhkan tempat untuk berteduh. Rumah ini terdiri dari 2 kamar tidur utama dan 1 ruangan keluarga besar yang dipergunakan untuk nonton tv atau main ps. Satu hal yang menjadi perhatian di sini, jumlah gembel yang sering ikut berteduh seringkali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penyewa rumah. Dalam satu malam bisa sampai 20 gembel sekaligus. Selain itu, gembel-gembel ini seringkali tidak tahu diri :D, mereka tidur di kamar tidur utama sementara penyewa rumah tidur di ruang tamu atau di depan tv.

Satu kejadian yang paling saya ingat seumur-umur ketika menggembel di Cipedes ini adalah pada waktu itu para penyewa rumah mempunyai hobi memelihara ular. Salah satu ular yang dipeliharanya adalah ular phyton seukuran lengan orang dewasa. Ular ini sering lepas dan kabur dari aquariumnya. Tapi para pemiliknya tidak begitu khawatir dengan lepasnya ular tersebut. Karena biasanya cukup dengan menunggu sampai terdengar ada teriakan ketakutan dari rumah sebelah atau dari halaman rumah, maka ular tersebut sudah bisa dipastikan ada di sumber suara teriakan tersebut. Sampai sekali waktu, ketika saya tidur di kamar depan bersama teman saya. Pagi-pagi kami dibangunkan oleh teman saya yang sedang mencari ularnya, mereka membangunkan kami untuk mencari siapa tahu ular tersebut masuk ke kamar kami. Karena saya tidak merasa saya pun menyanggahnya dengan mengatakan tidak mungkin ular tersebut masuk, karena kamar ini tertutup pintunya selama semalaman. Saya pun masuk lagi ke kamar tidur. Ketika saya hendak melanjutkan tidur, saya merapikan bantal, ketika saya mengangkat bantal terlihat ular tersebut sudah menggulung di bawah bantal saya. Sontak saya dan teman saya berteriak sekuat-kuatnya dan loncat keluar melalui jendela sambil lari ke halaman. BRrrrrrr!!! apa jadinya kalau kami digulung ketika tidur.

Kossan lain yang menjadi tujuan menggembel saya adalah kossan salah seorang sahabat saya, Fima. Kossan si Fima ini terletak di belakang kompleks KPAD Gegerkalong hilir, sangat dekat dengan kampus. Kossan ini merupakan kossan pertama yang saya gembeli sejak masa awal kuliah. Di kossan ini sering berkumpul teman-teman sekelas saya, mulai dari mengerjakan tugas sampai dengan main game atau nonton film bersama. Salah satu kejadian yang paling membekas bagi saya adalah ketika suatu malam saya hanya tinggal mempunyai sisa uang 4 ribu rupiah di kantong, sementara saat itu saya dalam keadaan demam tinggi. Kossan yang saya gedor adalah kossan si Fima ini. Ketika dibuka, ternyata saat itu si Fima ini sama sedang mengalami demam tinggi juga. Akhirnya saat itu karena sudah tengah malam, kami berdua pergi beli obat sambil sempoyongan menahan sakit kepala di warung 24 jam di dekat kampus kami. Selain itu saya pun dipinjami uang sebesar 10 ribu rupiah untuk beli makanan kecil untuk sekedar mengganjal perut saya saat itu. Sampai di kossan kami minum obat dan tertidur.

Selain teman-teman diatas, masih banyak lagi teman-teman yang berjasa bagi saya yang sering saya susahkan selama masa-masa kuliah saya. Mereka adalah orang-orang yang paling berjasa bagi saya selama saya kuliah, tentunya selain orang tua saya. Mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk membalas semua budi baik mereka ketika saya sedang susah. Mudah-mudahan pengalaman saya ini tidak terulang oleh anak saya kelak, cukup mereka tahu bahwa dulu ketika saya kuliah saya tidak seberuntung orang-orang. Tapi satu hal yang wajib saya syukuri, adalah kesempatan yang diberikan kepada saya. Semoga pengorbanan mereka mendapatkan balasan yang jauh lebih besar lagi. Amien.



Rabu, 22 September 2010

Virus Ganas di Tahun 2000-an

Seperti yang saya pernah ceritakan pada posting sebelumnya mengenai komputer pertama saya, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan dengan komputer pertama saya adalah bermain game. Tidak ada lagi. Saat itu jika melihat orang bisa masuk ke DOS Prompt maka saya bisa menganggap orang tersebut sebagai dewa. Oleh karenanya, tidak ada yang bisa saya lakukan juga ketika komputer pertama saya terkena serangan virus.

Virus yang paling mematikan yang pernah menyerang saat itu adalah Virus Win.CIH, karena virus saat itu bisa menghapus seluruh isi harddisk bahkan bisa membuat BIOS corrupt. Saya ingat, saat itu virus tersebut menghapus seluruh isi harddisk saya. Bahkan saking ganasnya virus tersebut, sampai saat ini (nggak tahu kedepannya), saya belum pernah menemui virus se-ganas virus Win.CIH tersebut.

Karena saat itu saya belum begitu fasih dengan komputer maka jika komputer saya mengalami masalah saya tidak bisa melakukan apa-apa selain meminta tolong teman atau ayah saya untuk memperbaiki komputer saya sendiri. Jika mereka tidak sanggup maka saya akan membawa komputer tersebut ke sebuah toko komputer untuk minta tolong install ulang. Saat itu jasa install ulang yang saya tahu adalah seharga Rp.25 ribu, cukup mahal untuk ukuran jasa saat itu.

Salah satu orang yang pernah saya mintai tolong saat itu adalah Mas Rully dari Warnet IJO, dimana Mas Rully dan kawan-kawannya ini adalah orang-orang yang saya anggap berjasa dalam memberikan pengetahuan awal saya mengenai komputer. Mas Rully dan kawan-kawannya ini adalah mahasiswa STT Telkom jurusan Teknik Elektro yang ngekost dan buka warnet di dekat rumah saya. Cerita tentang Mas Rully dkk akan saya ceritakan dalam postingan lainnya.

Komputer Pertama Saya

Perkenalan saya dengan komputer bisa dibilang terlambat, bahkan mungkin sangat terlambat jika dibandingkan dengan teman-teman saya saat itu yang sudah jauh mengenal komputer sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Meskipun saya sudah mengenal komputer sejak tahun 1997 melalui teman, saya sendiri mempunyai komputer pertama saya ketika saya naik ke kelas 3 SMA. Yaitu pada tanggal 14 Mei 1999, itu kalau saya tidak salah ingat yah, karena seingat saya waktu itu saya baru saja pulang dari pendakian ke Gunung Gede dan begitu tiba di rumah sudah ada satu set komputer baru. Ya, komputer baru, dan saat itu saya sangat terkesima dengan komputer tersebut. Benar-benar canggih, benar-benar hebat.

Komputer hebat dan canggih tersebut mempunyai spesifikasi sebagai berikut;
  • 233 Mhz Processor merk Intel Pentium MMX
  • 4,3 GB HDD merk Quantum Fireball
  • 32 MB SD-RAM Memory merk Visipro
  • 8 MB VGA AGP merk SiS 6326 (saya agak lupa-lupa ingat)
  • 32X CD-ROM merk Philips (CD ROM ini terkenal paling suka merusak CD, untuk yang pernah punya pasti tahu alasannya)
  • 1,44 MB Floppy Disk Drive (saat itu masih belum jaman USB)
  • Casing Mini ATX
  • Monitor 14" (saya lupa ini monitornya baru apa bekas)
seingat saya waktu itu komputer tersebut menghabiskan dana sekitar 3,6 Juta rupiah. :) sebuah nilai yang cukup fantastis saat itu.

Dengan komputer itu, banyak hal yang bisa saya lakukan, mulai dari main game, main game dan main game. :)) ya, saat itu gag ada lagi yang bisa saya lakukan dengan komputer tersebut selain main game. Bahkan untuk sekadar menginstall game pun saya masih dibantu oleh teman saya. Karena kalau saya sendiri yang menginstall, bisa dipastikan berantakan dan saya install bukan di directory yang seharusnya.

Kala itu, software yang sering saya mainkan adalah;
  • Novalogic F-16 Multirole Fighter & Mig 29 Fulcrum (saat itu game ini salah satu simulator pesawat terbaik di masanya)
  • Novalogic Delta Force 1 (game ini termasuk keren karena salah satu misinya adalah menghancurkan campaign di wilayah Indonesia)
  • Motoracer
  • Xing MPEG VCD Player
  • Winamp (entah versi berapa)
saya ingat, ayah saya seringkali marah karena saya bermain game tanpa ingat waktu, bahkan seringkali jam 2 malam saya masih bangun dan main game. Ya, benar-benar tidak ingat waktu. Pulang sekolah, saya bersama teman sebangku saya Ardian sering menghabiskan waktu bermain game Delta Force 1 secara bergiliran, atau kalau tidak kami main Novalogic F-16. Begitu terus sampai malam. Malamnya sepulang teman saya, saya melanjutkan main game sampai jam 2 pagi. Benar-benar tidak ingat waktu.

Hampir 3 tahun saya memiliki komputer ini sampai kalau tidak salah 2002, dan saya lupa persisnya kemana komputer ini. Entah mungkin waktu itu komputer ini dijual atau bagaimana, persisnya saya lupa. Tapi yang jelas ketika awal saya kuliah di STMB saat itu saya sudah tidak punya komputer lagi.

Bagaimanapun, kenangan bersama komputer pertama tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. :)

Senin, 20 September 2010

Angkot Bandung

Saat ini kalau diperhatikan, rasanya malas sekali kalau harus naik angkot di Bandung. Malas karena macet, malas karena panas, malas karena banyak waktu terbuang dan malas karena berjuta alasan lain. Meskipun begitu, bagi sebagian orang apapun alasannya, angkot tetap menjadi pilihan satu-satunya untuk alat transportasi, dan itu pun kebanyakan sudah beralih dengan menggunakan sepeda motor.

Meskipun begitu, naik angkot mempunyai hal menarik tersendiri bagi saya. Jika kita naik angkot pada jam-jam tertentu (pagi dan sore hari) jika kita beruntung maka kita bisa seangkot dengan mbak-mbak pegawai kantoran, teteh-teteh mahasiswi atau dengan adik-adik siswi SMA. Lumayan memberikan penyegaran. Pada pagi hari pada saat jam-jam dimulainya aktivitas, penampilan orang-orang yang saya sebutkan diatas masih fresh, masih segar dan masih wangi-wangi. Lumayan memompa semangat untuk memulai aktivitas. Sementara jika sore hari, pikiran yang suntuk dan kusut lumayan bisa terobati.

Selain hal di atas, saat berada di dalam angkot juga sering saya manfaatkan untuk membaca, apapun itu, mulai dari majalah, koran, komik bahkan sampai pelajaran. Jika musim ujian tiba, saya sering memanfaatkan waktu di dalam angkot untuk belajar, dimana materi-materi kuliah yang akan diujikan saya buat rangkumannya di dalam slide powerpoint, dan saya print slide tersebut kecil-kecil, dan ini terbukti efektif bagi saya dimana cara belajar seperti ini saya tularkan kepada adik sepupu saya. Sebenarnya hobi membaca didalam angkot ini bukan karena memang saya hobi membaca, pada awalnya biar terlihat smart di depan cewek-cewek maka saya memaksakan diri membaca di dalam angkot. Mungkin karena terbiasa, akhirnya menjadi hobi tersendiri. Bahkan kurang lengkap rasanya jika naik angkot saya tidak membawa bahan bacaan.

Selain membaca, salah satu hal yang bisa dilakukan saat berada di dalam angkot adalah tidur. Ya, tidur, hal ini karena jarak tempuh saya di dalam angkot cenderung panjang, bisa sampai 2 jam saya berada di dalam angkot. Terlebih saat saya masih kuliah saya nyambi bekerja juga mulai sebagai pejaga warnet sampai menjadi programmer lepas di beberapa perusahaan, sehingga seringkali saya kekurangan waktu tidur. Karena saat itu saya masih menganut paham bahwa untuk coding itu lebih efektif dilakukan pada saat malam hari. Tapi seringkali malah saya keenakan tidur di dalam angkot, sehingga sering terlewat dari tujuan. Ada kejadian lucu ketika saya mau pulang ke arah Lembang dari pekerjaan saya menjaga warnet di daerah Gegerkalong. Sekitar jam 11 malam saya naik sebuah angkot di Terminal Ledeng, karena saya lihat angkot tersebut masih kosong dan saya pun sangat lelah akhirnya saya tertidur di dalam angkot. Saking pulasnya saya tidur sampai saya terlewat dan tiba-tiba terbangun sudah berada di pasar Lembang, dimana saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

Saat itu, karena populasi motor masih belum begitu banyak, ditambah dengan harga BBM yang murah (700 s/d 2000an se liter), pengguna jasa angkot ini masih banyak. Sehingga pada saat jam-jam pergi dan pulang sekolah atau kantor kita akan mendapati angkot penuh sesak dan kumpulan orang-orang yang menunggu angkot kosong. Seringkali karena malas menunggu atau karena takut terlambat, orang orang tersebut menggunakan jasa ojek atau bahkan berjalan kaki. Sehingga saat itu karena permintaan atas jasa angkot ini sangat banyak, maka meskipun angkot ngetem bisa dipastikan ngetem-nya ini tidak akan lama. Situasi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi aktual saat ini. Pengguna angkot sudah tidak banyak lagi seperti dulu, sehingga naik angkot tidak semenyenangkan seperti dulu. Pemandangan penumpang yang berjubel di dalam angkot dan kumpulan orang-orang yang menunggu angkotpun sudah digantikan oleh lalu lalang sepeda motor yang tidak ada putus-putusnya.

Seringkali saya sengaja naik angkot untuk mendapatkan lagi feel seperti dulu ketika masih zaman kuliah atau zaman sekolah. Tapi rupanya zaman sudah berubah. :(

Pentium 486 dan Sepatu Baru

Ayah saya adalah orang yang hobi utak atik barang-barang, termasuk mengumpulkan barang-barang rongsokan. Salah satu barang rongsokan yang diutak-atik oleh ayah saya adalah Komputer Pentium 486.

Saat itu tahun 2000 komputer Pentium 486 adalah barang yang sudah bisa dibilang ketinggalan zaman. Karena waktu itu sudah mulai bermunculan prosesor generasi baru, yaitu Pentium 2, Pentium 3 dan Pentium 4. Sementara saat itu komputer saya di rumah masih memakai Pentium 233 MMX, atau generasi terakhir dari Pentium 1 (CMIIW). Selain itu, Pentium 486 pun saat itu sudah dinilai tidak lagi mumpuni untuk menjalankan sistem operasi terbaru dan aplikasi-aplikasinya. Lain halnya bagi sebagian orang, Pentium 486 ini masih mempunyai nilai ekonomis, yaitu sebagai komputer yang digunakan untuk billing di wartel atau untuk rental dan jasa-jasa pengetikan.

Atas nilai ekonomis itu pula ayah saya mengumpulkan satu persatu komponen dari komputer lama yang teronggok menjadi sampah di kantornya. Satu persatu komponen komputer tersebut dibawa pulang ke rumah untuk kemudian dirakitnya. Komponen tersebut adalah harddisk, memory, motherboard sampai dengan monitornya. Saya pun ikut membantu dengan menginstallkan sistem operasinya. Sampai akhirnya komputer tersebut siap pakai.

Begitu komputer tersebut terakit, saya pun mencari iklan permintaan komputer 486 di koran lokal. Ya, saat itu permintaan atas komputer 486 cukup banyak di koran. Beragam services ditawarkan, mulai dari dibeli dengan harga tinggi sampai dengan dijemput ke rumah. Tanpa pikir panjang, saya hubungi salah satu nomor tersebut dan menginformasikan kalau di rumah saya ada komputer 486 yang siap pakai. Tak berapa lama, datang yang menjemput dan tawar menawar pun terjadi, dan akhirnya komputer tersebut terjual dengan harga 200 ribu rupiah.

Atas persetujuan ibu saya, uang tersebut saya belikan sepatu baru :) seharga 150 ribu rupiah. :D sepatu gunung yang saya beli dari toko adventure di sudut kota. Saat itu senang sekali rasanya, punya sepatu baru hasil dari bantu-bantu ayah saya mengumpulkan rongsokan dan merakitnya sampai bisa menjadi barang yang berguna.

Quantum eCommerce College

Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu. Selepas kegagalan saya masuk ke Akademi Militer, saya memutuskan untuk mengambil kursus professional 1 tahun di tempat ini. Saat itu padahal saya ditawari untuk kuliah di Jogja oleh orang tua saya, dan hari itu juga saya diberi uang untuk membeli formulir pendaftaran di salah satu universitas di Jogja, tapi mungkin karena memang sudah menjadi jalan hidup saya, maka saat itu saya memutuskan untuk mengikuti kursus 1 tahun di Quantum eCommerce College.

Undangan untuk mengikuti kursus ini saya dapatkan dari surat pemberitahuan yang datang ke rumah saya. Dan dengan dasar surat pemberitahuan tersebut saya pun menuju ke lokasi tempat kursus tersebut di Jalan Dago dengan diantar oleh teman saya Qnoy. Dimana saat itu di tahun 2000, yang namanya Jalan Dago itu benar-benar sejuk oleh rimbun pepohonan, dan kendaraan yang masih sangat sedikit, sangat kontras dengan kondisi saat ini.

Sesampainya di kantor tempat kursus ini, saya disambut oleh salah seorang alumninya (dimana kelak saya akan banyak berhubungan dengan orang ini). Saat itu saya ditawari masuk dan diberi prospek mengenai industri telematika di masa yang akan datang. Atas dasar saya gampang dibohongi oleh statement kemudahan mencari pekerjaan, maka sayapun memutuskan untuk mendaftar di tempat kursus ini. Padahal saat itu saya tidak begitu memahami seperti apa sebenarnya prospek kerja di dunia yang saat itu akan saya masuki. Internetpun saya baru mengenal beberapa bulan sebelumnya, bahkan komputer pun saya belum terlalu paham.

Keputusan saya tersebut rupanya mendapat tentangan dari berbagai pihak termasuk keluarga besar saya, dimana saat itu saya harus beradu argumen mengenai statement kemudahan mencari kerja tersebut :), tapi satu satunya orang yang mendukung saya adalah ibu saya. Ya, ibu saya meskipun tidak lulus SD saat itu mengatakan kepada saya, jika memang ini menjadi pilihan saya maka jalani saja, karena kelak saya sendiri yang merasakan manfaatnya. Ibu saya menengahi perbedaan pendapat saya dengan keluarga saya adalah dengan memberikan statement tambahan, bahwa keputusan saya mengambil kursus ini adalah untuk menunggu pendaftaran akademi militer di tahun depan.

Akhirnya, saat itu saya pun memulai memasuki dunia teknologi informasi dengan menjadi peserta kursus eCommerce, sesuatu hal yang sangat tidak umum saat itu. Keputusan ini adalah keputusan yang membawa perubahan besar dalam hidup saya.

Ya, gagal masuk akademi militer, gagal kuliah di jogja...tapi ada hikmahnya. :)

Jam Pohon

Awal-awal saya kuliah di Institut Manajemen Telkom atau dulu masih bernama STMB (Sekolah Tinggi Manajemen Bandung) dimana saat itu posisi kampusnya masih ada di Kompleks Training Center PT.Telkom yang ada di Gegerkalong, saya biasa masuk kuliah itu pukul 8 pagi. Dimana seingat saya saat itu, jadwal kuliah saya sangat teratur selayaknya orang kantoran.

Saya ingat waktu itu saya berangkat setiap hari dengan naik angkot dari rumah saya di daerah Dayeuh Kolot pukul 6 pagi, dimana biasanya saya akan sampai di Gegerkalong sekitar pukul 8 pagi. Yang jadi penunjuk waktu saya saat itu adalah jam dinding yang digantung di pohon mangga di pinggir Jalan Gegerkalong Hilir. Karena jam tersebut digantung di pohon, maka saya sebut jam pohon. Dimana, jika jam pohon tersebut menunjukkan waktu pukul 8 kurang 10 menit, berarti saya tepat waktu, sementara jika jam pohon tersebut menunjukkan waktu pukul 8 tepat, maka saya telat, karena posisi kampus yang ada di dalam kompleks dan jauh dari tempat saya turun angkot, mengharuskan saya untuk berlari agar saya bisa masuk kelas tepat waktu, atau istilahnya waktu itu agar tidak disuruh menutup pintu dari luar. :)

Yup, waktu itu saya terbiasa sampai di kelas dengan keringat bercucuran dan nafas terengah-engah. Karena harus berlari sekitar 500 meter dan ditambah dengan naik tangga 4 lantai.