Senin, 06 Juni 2011

Handphone

Pertama kali saya memiliki Handphone kalau tidak salah akhir tahun 2001. Tapi yang jelas pada waktu itu handphone masih belum mewabah seperti sekarang. Dulu masih jarang orang yang pakai handphone. Saya juga masih ingat ketika saya masih kelas tiga SMA (tahun 2000), jika di kelas ada bunyi handphone pasti langsung disoraki oleh teman-teman sekelas. Malah waktu itu perangkat pager jauh lebih umum digunakan dari pada sebuah handphone. Akan tetapi baik pager maupun handphone bagi saya adalah sesuatu benda yang sangat mewah saat itu. Jangankan handphone, nomor perdana saja saat itu masih bisa dijual seharga ratusan ribu.

Ketika saya pertama kali bekerja dengan penghasilan tetap dan pada waktu itu handphone sudah mulai diterima di masyarakat dan sudah mulai dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Berbekal uang hasil bekerja selama satu bulan di sebuah warnet di Jalan Setiabudhi Bandung maka saya pun mencoba untuk membeli sebuah handphone. Bukan handphone baru dan bukan handphone kelas high end, tapi sebuah handphone low end bekas pakai milik sepupu saya. Handphone tersebut keluaran Siemens dengan type A 35. Handphone tersebut saya beli seharga 300 ribu rupiah. Handphone tersebut hanya bertahan sekitar beberapa bulan saja, sebelum akhirnya saya jual untuk saya tukar dengan handphone keluaran Siemens dengan type S-25.

Waktu itu handphone Siemens S-25 adalah handphone kelas bisnis dengan layar tiga warna. Cukup mewah jika dibandingkan dengan handphone Siemens A-35 yang pertama saya miliki. Untuk menambah gaya, pada waktu itu saya seringkali iseng-iseng mencari software yang dapat me-manage handphone tersebut. Mulai dari mengganti wallpaper atau sekadar menambah ringtone. Maklum, waktu itu masih belum zaman juga untuk mengganti wallpaper atau ringtone dengan mudah. Apalagi waktu itu masih jarang atau bahkan dikatakan tidak ada toko handphone yang menjual jasa jual beli ringtone atau wallpaper. Saya ingat, waktu itu hanya handphone-handphone type terbaru dan keluaran dari Nokia saja yang mampu mengganti-ganti ringtone dengan mudah. Cukup dengan memasukkan kode-kode ringtone tersebut ke dalam ringtone editor maka terciptalah sebuah ringtone. Bahkan pada waktu itu majalah-majalah sering menyediakan satu halaman khusus untuk kode-kode ringtone yang sedang hits.

Handphone Siemens S-25 tersebut saya pakai sampai awal saya kuliah. Karena setelah itu jika tidak salah saya sempat tidak mempunyai handphone. Pada waktu itu sempat saya diberi pinjam handphone Siemens S-1 milik ayah saya. Handphone tersebut adalah handphone testing untuk instalasi perangkat BTS milik ayah saya. Karena kalau tidak salah pada waktu itu ayah saya sedang mengerjakan project GSM milik Alcatel dan Siemens. Dan jangan salah, handphone tersebut berdimensi sangat besar, sangat kontras jika dibandingkan dengan model-model handphone yang waktu itu. Sebagai catatan pada waktu itu industri handphone berlomba-lomba mengeluarkan produk handphone terkecil dan tertipis. Tapi, lagi-lagi, hal itu di luar kemampuan saya. Saya tidak ingat sampai kapan persisnya saya tidak mempunyai handphone, tapi jika saya tidak salah di akhir tahun 2003 saya sudah mempunyai handphone Nokia dengan type 5110.

Memasuki tahun 2004 model handphone yang banyak beredar di pasaran adalah handphone dengan kemampuan mengambil gambar, mengirimkan MMS dan mempunyai ringtone polyphonic atau mp3. Dan tahun itu mulai banyak ditemui fenomena mengambil photo dengan menggunakan kamera handphone. Lalu apakah handphone Nokia 5110 saya bisa melakukan itu? tentu saja tidak. :)). Lalu bagaimana saya jika ingin mengambil photo dengan menggunakan kamera handphone? jangan mimpi! =)). Saya ingat, terakhir kali saya menggunakan handphone Nokia 5110 tersebut sampai akhir tahun 2004, kalau tidak salah sampai handphone tersebut mati setelah terjatuh karena dijadikan permainan oleh teman-teman saya. Kalau harus dibilang, sedih banget sih waktu itu, hanya gara-gara handphone saya tampak jadul sampai dijadikan mainan oleh teman-teman saya, dilempar-lempar sampai jatuh dan akhirnya mati. Tapi ya mau gimana lagi. Setelah itu sempat saya tidak mempunyai handphone lagi sampai akhir tahun 2004. Waktu itu handphone yang saya pakai adalah keluaran Nokia dengan type 1108. Dan handphone tersebut adalah handphone baru yang pertama kali saya miliki seumur-umur.

Handphone Nokia 1108 tersebut saya dapatkan dari seorang teman yang mungkin kasian melihat saya tidak mempunyai handphone. Terlebih pada waktu itu ada sebuah tagline dari salah satu operator telekomunikasi yang berbunyi "harree geenee gag punya hapeee". Selain itu, waktu itu saya mulai ikut dalam beberapa project dengan teman-teman saya. Dan teman saya tersebut mungkin akan sangat sulit untuk berkomunikasi dengan saya karena saya tidak memiliki handphone. Oleh karena itu tanpa banyak berpikir dia pun memberikan sebuah handphone baru bagi saya. Akan tetapi karena kesulitan ekonomi, handphone tersebut dengan sangat terpaksa saya jual untuk saya belikan CD-WRITER. Sebuah hal yang sangat disesali oleh saya sampai sekarang. Tapi waktu itu saya benar-benar terpaksa untuk menjual handphone tersebut, mengingat waktu itu saya harus berspekulasi untuk menjaga kesinambungan hidup saya dengan berjualan CD yang berisi lagu-lagu. Alias jadi pembajak karya orang lain. Sebuah profesi yang lumayan mendatangkan rupiah bagi saya kala itu. Kisah ini akan saya ceritakan dalam posting yang lain, karena ini merupakah kisah tersendiri.

Jika diingat-ingat lagi, handphone Nokia 1108 tersebut adalah handphone favorit saya selama saya menggunakan handphone. Bahkan sampai sekarang. Bentuknya candy bar dengan warna biru tua metalik dengan kelir warna abu-abu muda. Selain itu handphone tersebut dilengkapi dengan senter kecil yang menggunakan lampu led berwarna putih dan keypad anti air. Cukup bikin saya menyesal untuk menjual handphone tersebut sampai. Saya tidak ingat selepas itu saya memakai handphone apa, tapi yang jelas saya ingat adalah ketika saya magang di sebuah perusahaan konsultan IT di Bandung dan ditugaskan ke Kalimantan, karena disitulah saya membeli handphone lagi untuk keperluan pekerjaan saya. Handphone yang saya beli keluaran Nokia dengan type 1208, dengan harapan mewarisi kelebihan-kelebihan dari Nokia type 1108. Akan tetapi harapan tinggal harapan dan penyesalan selalu datang di akhir. Handphone Nokia type 1208 ini kalau tidak salah tidak saya pergunakan lama, karena beberapa bulan setelah itu saya jual kembali. Selepas handphone tersebut kalau tidak salah saya sempat membeli handphone motorolla type C155, saya tidak ingat berapa lama saya memakai handphone ini, tapi yang pasti lebih dari satu tahun sampai saya mulai bekerja di Jakarta.

Mungkin tidak semua handphone yang pernah saya miliki saya ceritakan di sini, karena saya sendiri pun sudah mulai lupa-lupa ingat, tapi yang jelas dari seluruh handphone yang pernah saya miliki, handphone-handphone tersebut diatas yang mempunyai kenangan bagi saya. Usaha untuk membeli handphone tersebut, lalu kenangan selama penggunaannya sampai kenangan pada saat harus menjual handphone tersebut. Tapi itu semua kenangan manis bagi saya. :)


Jumat, 20 Mei 2011

Bye bye Oregon

Bulan maret lalu saya mendapatkan satu panggilan telepon yang mengabarkan bahwa saya diundang untuk sebuah interview di sebuah kantor di bilangan Sudirman. Dan tidak tanggung-tanggung orang yang berada di ujung telepon langsung mengajukan sebuah pertanyaan "how good is your english?". Tebakan saya bahwa saya dipanggil oleh sebuah perusahaan asing ternyata terbukti ketika beberapa hari kemudian saya mendatangi interview tersebut.

Sebelum saya mendatangi interview tersebut saya menyiapkan diri saya dengan mengunduh beberapa materi mengenai perusahaan yang akan saya datangi, core business dan topik-topik lain yang relevan dengan kegiatan interview saya. Selain itu, saya juga mendatangi beberapa rekan saya untuk menanyakan mengenai topik-topik yang saya perkirakan akan muncul pada saat interview nanti. Sepanjang perjalanan saya habiskan untuk melahap semua topik bacaan tersebut, dengan tujuan agar saya tidak gagap ketika ditanya oleh interviewer.

Apa yang saya perkirakan mengenai topik-topik pertanyaan yang akan muncul pada saat interview ternyata menjadi kenyataan. Interviewer saya menjabat sebagai seorang Sales Director untuk wilayah Asia Pacific dengan kedudukan kantor di Kuala Lumpur, Malaysia. Interview berlangsung kurang lebih satu jam dengan topik-topik mengenai tugas dan tanggung jawab saya kelak apabila saya diterima di perusahaan tersebut. Selain tentu saja negosiasi mengenai benefit yang akan saya dapatkan jika saya diterima. Di luar seluruh benefit yang dibahas ketika interview, satu hal yang paling menarik dan menantang bagi saya adalah kewajiban saya untuk menjalani training di head quater perusahaan tersebut di Oregon (USA) dan wilayah operasional di seluruh Asia Pasific. Sebuah kesempatan yang sudah sangat saya tunggu-tunggu selama ini.

Selama ini, saya selalu menyimpan keinginan untuk bisa pergi dan bekerja di luar negeri. Dalam bayangan saya, saya bisa mendapatkan banyak hal baru, mulai dari bertemu orang-orang dari berbagai latar belakang, belajar untuk bekerja dengan standard yang mengacu pada standard mereka, hidup di tempat yang jauh dari tanah kelahiran dan dari negara asal. Semua itu merupakan tantangan yang sangat ingin saya kalahkan. Sama seperti apa yang pernah saya alami ketika saya bekerja dengan beberapa orang dari Inggris dan Prancis ketika saya masih kuliah dulu. Dan berangkat dari pengalaman bekerja dengan mereka, saya mendapatkan banyak hal baru, sudut pandang baru dan etos kerja yang mengacu pada standard mereka.
Terlebih apabila saya berkomunikasi dengan teman-teman saya yang juga tinggal dan bekerja di luar negeri, keinginan saya semakin tak terbendung.

Waktu itu saya diberi waktu satu bulan untuk memutuskan apakah saya akan mengambil kesempatan ini atau tidak. Dan selama satu bulan tersebut saya intensif berkomunikasi dengan pihak kantor tersebut mengenai tugas, tanggung jawab dan benefit yang akan saya dapatkan. Selama satu bulan itu juga saya berkomunikasi intensif dengan keluarga saya mengenai kesempatan yang saya dapatkan tersebut. Apakah akan saya ambil atau tidak. Dan saya harus sudah mengambil keputusan pada tanggal 2 Mei 2011. Dan jika semuanya berjalan lancar, maka saya akan mulai bekerja mulai tanggal 1 bulan Juni 2011 dan mulai mempersiapkan keberangkatan saya ke Oregon, USA.

Akan tetapi dengan berbagai pertimbangan, saya akhirnya mengambil keputusan untuk menunda semua mimpi saya itu dengan alasan resiko yang saya akan ambil ketika itu saya nilai terlalu besar. Dan bagi saya, jika saya pribadi yang menanggung resiko sebesar itu maka tidak akan menjadi masalah bagi saya. Tapi saya tidak sanggup untuk mempertaruhkan orang-orang terdekat saya yang juga menaruh harapan besar pada saya. Saya tidak sanggup untuk mengorbankan mereka. Jadi pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil tawaran tersebut, dengan pertimbangan bahwa jika memang sudah waktunya maka pasti saya akan mendapatkan apa yang saya impikan selama ini. Bye-bye Oregon.

Selasa, 08 Februari 2011

Membaca

Salah satu hobi saya sejak dari kecil adalah membaca. Apapun saya baca, entah itu majalah, koran, atau apapun itu. Terlebih jika hal itu menarik perhatian saya untuk membaca. Ketika saya masih kecil, agar makan saya cepat habis harus selalu dibarengi dengan membaca. Sayang, hobi saya ini tidak dibarengi dengan kemampuan finansial yang cukup untuk membeli bahan bacaan yang saya inginkan. Tapi untuk menyiasati hal itu, ada banyak cara yang dapat saya lakukan agar saya tetap dapat membaca.

Ketika masih SMA, salah satu hobi saya adalah membaca majalah-majalah kemiliteran. Baik itu terbitan dari dalam negeri seperti TSM (Teknologi & Strategi Militer), Angkasa atau buletin-buletin internal TNI maupun terbitan luar negeri seperti Soldier of Fortune, Aeroplane, Combat Aircraft dlsb. Untuk bisa mendapatkan bahan bacaan tersebut saya biasa berburu di Pasar Buku Palasari, dimana disana saya mempunyai kenalan yang menjual buku-buku dan majalah bekas. Berburu buku dalam artian tidak untuk membeli, tapi untuk sekadar menumpang membaca saja. Maklum, kocek zaman SMA tidaklah banyak, FYI waktu SMA saya hanya diberi uang jajan sebesar 2000 rupiah saja, jelas tidak akan cukup untuk membeli majalah-majalah bekas, apalagi majalah baru. Kala itu saya bisa tahan berdiri berjam-jam lamanya hanya untuk sekadar membolak-balik lembaran majalah-majalah yang sudah kusam. Terkadang, jika uang saya berlebih saya bisa membeli satu atau dua majalah bekas tersebut. Lumayan, dari majalah-majalah tersebut saya bisa mendapatkan informasi mengenai pesawat-pesawat tempur atau profil pasukan khusus negara lain. Kala itu, selain informasi, saya juga sangat maniak mengumpulkan gambar-gambar mengenai kemiliteran. Jika saya menemukan informasi kemiliteran di koran atau majalah, sudah pasti saya gunting dan saya tempel di dalam kliping khusus saya. Maklum, kala itu saya belum mengenal internet seperti sekarang. Selepas SMA, hobi saya semakin menjadi-jadi. Ketika saya mengenal internet, saya bisa mendapatkan informasi kemiliteran yang saya inginkan. Dan hobi mengumpulkan potongan gambar berubah menjadi hobi mendapatkan gambar/photo beresolusi tinggi untuk sekadar dijadikan simpanan.

Ketika saya mulai kuliah, hobi membaca saya tidak surut. Bahkan mungkin topiknya semakin luas. Salah satu topik yang saya gemari ketika saya kuliah adalah informasi-informasi mengenai teknologi informasi dan telekomunikasi. Terlebih saat itu saya memang tengah menggandrungi kedua topik tersebut. Untuk mendapatkan informasi-informasi yang saya inginkan, seringkali saya nongkrong di stand-stand penjual koran dan majalah hanya untuk sekedar membolak-balik lembaran tabloid teknologi informasi dan telekomunikasi seperti KOMPUTEK, PCPLUS, CHIP dan lain-lain. Kala itu saya seringkali menyisihkan sebagian dari uang jajan saya untuk membeli tabloid-tabloid tersebut. Selain stand koran di pinggir jalan, saya juga sering mendatangi toko buku Gramedia, karena di toko buku Gramedia saya bisa sekadar membaca-baca buku yang menarik, meskipun saya tidak membeli :) ,maklum anggaran mahasiswa mana cukup untuk membeli buku-buku yang kala itu bisa seharga uang jajan saya selama satu bulan. Tapi walaupun begitu, saya cukup sering juga menyisihkan uang jajan saya untuk membeli buku-buku yang saya inginkan. Dan kalau uang saya tidak cukup, saya bisa cari buku yang sama di Pasar Buku Palasari di Bandung. Karena di Pasar Buku Palasari, saya bisa mendapatkan potongan harga sebesar 30% dari harga yang beredar di toko-toko buku besar. Cukup lumayan bukan?

Selain topik-topik mengenai teknologi informasi, telekomunikasi dan kemiliteran, salah satu topik menarik yang saya gandrungi adalah sejarah. Ketika saya membaca buku sejarah, saya merasa seperti masuk ke dalam dunia lain. Dan hal itu sangat menarik bagi saya. Nama-nama seperti Rosihan Anwar yang banyak menulis mengenai pengalamannya dalam berbagai kejadian penting di republik ini karena beliau merupakan pengamat sekaligus pelaku sejarah, atau Alwi Shahab yang hapal betul seluk beluk kota Jakarta dari dulu sampai sekarang atau Haryoto Kunto yang saya kenal melalui sejarah Bandung Tempo Dulu, semua tulisan mereka tak pernah saya lewatkan untuk saya baca. Bahkan keingintahuan saya mengenai sejarah sempat membuat saya susah, ketika itu saya sedang bertamu dan diajak ngobrol oleh tuan rumah, secara tidak sadar saya menemukan artikel menarik mengenai awak U-Boat Nazi Jerman yang terdampar di Sukabumi, dan secara refleks saya malah asyik membuka-buka koran tersebut. Sesuatu yang membuat saya susah saat itu :( , karena oleh tuan rumah saya dikatakan tidak sopan, tapi yah mau dikata apa, saya tidak melakukan hal itu dengan sengaja.

Membaca bagi saya sangat mengasyikkan, dan saya bisa membaca di mana saja dan kapan saja. Salah satu tempat favorit saya untuk membaca adalah di angkot. Karena di dalam angkot saya mempunyai waktu yang cukup banyak untuk membaca, terlebih ketika kuliah jarak tempuk naik angkot yang lumayan jauh cukup memberi saya waktu lebih untuk membaca. Waktu yang tepat untuk membaca di dalam angkot biasanya pada pagi hari, karena pada pagi hari otak masih cukup segar untuk menyerap semua bahan bacaan. Maka tidak heran ketika saya masih kuliah, jika tiba musim ujian, saya malah seringkali me-review bahan ujian saya di dalam angkot, bukannya di rumah. Bagi saya, buku merupakan benda yang sangat menarik, karena praktis untuk dibawa-bawa kemana saja dan mengasyikkan untuk dibaca. Meskipun teknologi digital sudah mulai mewabah di dalam kehidupan sehari-hari, buku tetap tidak tergantikan. Bagi saya lebih menarik membaca buku dibandingkan dengan membaca lembaran-lembaran digital. Aroma khas dari buku baru dan buku lama tidak akan dapat tergantikan.