Saat itu tahun 2000 komputer Pentium 486 adalah barang yang sudah bisa dibilang ketinggalan zaman. Karena waktu itu sudah mulai bermunculan prosesor generasi baru, yaitu Pentium 2, Pentium 3 dan Pentium 4. Sementara saat itu komputer saya di rumah masih memakai Pentium 233 MMX, atau generasi terakhir dari Pentium 1 (CMIIW). Selain itu, Pentium 486 pun saat itu sudah dinilai tidak lagi mumpuni untuk menjalankan sistem operasi terbaru dan aplikasi-aplikasinya. Lain halnya bagi sebagian orang, Pentium 486 ini masih mempunyai nilai ekonomis, yaitu sebagai komputer yang digunakan untuk billing di wartel atau untuk rental dan jasa-jasa pengetikan.
Atas nilai ekonomis itu pula ayah saya mengumpulkan satu persatu komponen dari komputer lama yang teronggok menjadi sampah di kantornya. Satu persatu komponen komputer tersebut dibawa pulang ke rumah untuk kemudian dirakitnya. Komponen tersebut adalah harddisk, memory, motherboard sampai dengan monitornya. Saya pun ikut membantu dengan menginstallkan sistem operasinya. Sampai akhirnya komputer tersebut siap pakai.
Begitu komputer tersebut terakit, saya pun mencari iklan permintaan komputer 486 di koran lokal. Ya, saat itu permintaan atas komputer 486 cukup banyak di koran. Beragam services ditawarkan, mulai dari dibeli dengan harga tinggi sampai dengan dijemput ke rumah. Tanpa pikir panjang, saya hubungi salah satu nomor tersebut dan menginformasikan kalau di rumah saya ada komputer 486 yang siap pakai. Tak berapa lama, datang yang menjemput dan tawar menawar pun terjadi, dan akhirnya komputer tersebut terjual dengan harga 200 ribu rupiah.
Atas persetujuan ibu saya, uang tersebut saya belikan sepatu baru :) seharga 150 ribu rupiah. :D sepatu gunung yang saya beli dari toko adventure di sudut kota. Saat itu senang sekali rasanya, punya sepatu baru hasil dari bantu-bantu ayah saya mengumpulkan rongsokan dan merakitnya sampai bisa menjadi barang yang berguna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar