Senin, 20 September 2010

Angkot Bandung

Saat ini kalau diperhatikan, rasanya malas sekali kalau harus naik angkot di Bandung. Malas karena macet, malas karena panas, malas karena banyak waktu terbuang dan malas karena berjuta alasan lain. Meskipun begitu, bagi sebagian orang apapun alasannya, angkot tetap menjadi pilihan satu-satunya untuk alat transportasi, dan itu pun kebanyakan sudah beralih dengan menggunakan sepeda motor.

Meskipun begitu, naik angkot mempunyai hal menarik tersendiri bagi saya. Jika kita naik angkot pada jam-jam tertentu (pagi dan sore hari) jika kita beruntung maka kita bisa seangkot dengan mbak-mbak pegawai kantoran, teteh-teteh mahasiswi atau dengan adik-adik siswi SMA. Lumayan memberikan penyegaran. Pada pagi hari pada saat jam-jam dimulainya aktivitas, penampilan orang-orang yang saya sebutkan diatas masih fresh, masih segar dan masih wangi-wangi. Lumayan memompa semangat untuk memulai aktivitas. Sementara jika sore hari, pikiran yang suntuk dan kusut lumayan bisa terobati.

Selain hal di atas, saat berada di dalam angkot juga sering saya manfaatkan untuk membaca, apapun itu, mulai dari majalah, koran, komik bahkan sampai pelajaran. Jika musim ujian tiba, saya sering memanfaatkan waktu di dalam angkot untuk belajar, dimana materi-materi kuliah yang akan diujikan saya buat rangkumannya di dalam slide powerpoint, dan saya print slide tersebut kecil-kecil, dan ini terbukti efektif bagi saya dimana cara belajar seperti ini saya tularkan kepada adik sepupu saya. Sebenarnya hobi membaca didalam angkot ini bukan karena memang saya hobi membaca, pada awalnya biar terlihat smart di depan cewek-cewek maka saya memaksakan diri membaca di dalam angkot. Mungkin karena terbiasa, akhirnya menjadi hobi tersendiri. Bahkan kurang lengkap rasanya jika naik angkot saya tidak membawa bahan bacaan.

Selain membaca, salah satu hal yang bisa dilakukan saat berada di dalam angkot adalah tidur. Ya, tidur, hal ini karena jarak tempuh saya di dalam angkot cenderung panjang, bisa sampai 2 jam saya berada di dalam angkot. Terlebih saat saya masih kuliah saya nyambi bekerja juga mulai sebagai pejaga warnet sampai menjadi programmer lepas di beberapa perusahaan, sehingga seringkali saya kekurangan waktu tidur. Karena saat itu saya masih menganut paham bahwa untuk coding itu lebih efektif dilakukan pada saat malam hari. Tapi seringkali malah saya keenakan tidur di dalam angkot, sehingga sering terlewat dari tujuan. Ada kejadian lucu ketika saya mau pulang ke arah Lembang dari pekerjaan saya menjaga warnet di daerah Gegerkalong. Sekitar jam 11 malam saya naik sebuah angkot di Terminal Ledeng, karena saya lihat angkot tersebut masih kosong dan saya pun sangat lelah akhirnya saya tertidur di dalam angkot. Saking pulasnya saya tidur sampai saya terlewat dan tiba-tiba terbangun sudah berada di pasar Lembang, dimana saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.

Saat itu, karena populasi motor masih belum begitu banyak, ditambah dengan harga BBM yang murah (700 s/d 2000an se liter), pengguna jasa angkot ini masih banyak. Sehingga pada saat jam-jam pergi dan pulang sekolah atau kantor kita akan mendapati angkot penuh sesak dan kumpulan orang-orang yang menunggu angkot kosong. Seringkali karena malas menunggu atau karena takut terlambat, orang orang tersebut menggunakan jasa ojek atau bahkan berjalan kaki. Sehingga saat itu karena permintaan atas jasa angkot ini sangat banyak, maka meskipun angkot ngetem bisa dipastikan ngetem-nya ini tidak akan lama. Situasi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi aktual saat ini. Pengguna angkot sudah tidak banyak lagi seperti dulu, sehingga naik angkot tidak semenyenangkan seperti dulu. Pemandangan penumpang yang berjubel di dalam angkot dan kumpulan orang-orang yang menunggu angkotpun sudah digantikan oleh lalu lalang sepeda motor yang tidak ada putus-putusnya.

Seringkali saya sengaja naik angkot untuk mendapatkan lagi feel seperti dulu ketika masih zaman kuliah atau zaman sekolah. Tapi rupanya zaman sudah berubah. :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar