Jumat, 24 September 2010

Kerja Sambilan

Saya teringat kisah si kirimaru dalam komik ninja rantaro. Kirimaru adalah seorang anak yang ditinggal kedua orang tuanya sehingga harus berjuang bekerja sambilan untuk bertahan hidup. Kirimaru ini terkenal lemah dengan kata "uang", "gratis", "murah" dlsb. Mungkin kalau diingat-ingat sifat saya ini mirip si Kirimaru. Meskipun tidak sampai pada tahap yang parah. Saya hanya sampai pada taraf kerja sambilan untuk mendapatkan uang. Dan hal ini sudah terbiasa saya lakukan sejak saya SMA.

Ketika SMA, kerja sambilan yang saya lakukan adalah dengan berjualan pesawat telepon dan rekaman MP3 ke dalam kaset. Pesawat telepontersebut saya bawa ke sekolah dengan memasukkan ke dalam ransel/backpack layaknya seorang yang mau naik gunung. Dengan cara ini saya tidak malu menenteng-nenteng ransel berisi pesawat telepon sebanyak berkota-kotak. Sebuah pesawat telepon saya dapatkan dengan harga 100 ribu dan saya jual dengan harga 115 s/d 125 ribu. Pesawat telepon ini saya tawarkan ke teman-teman saya dan kepada guru-guru di sekolah. Tidak pernah terpikir malu oleh saya ketika saya masuk ke ruang guru dan menjelaskan teknis pesawat telepon tersebut. Saya juga tidak malu ketika saya datang ke rumah teman saya, menjelaskan dan memasangkan pesawat telepon tersebut. Meskipun teman-teman saya meneriaki saya sebagai tukang telepon, saya tidak juga merasa malu, kala itu yang terpikir oleh saya hanya perasaan senang. Senang, karena saya bisa pegang uang sampai dengan puluhan ribu rupiah. Sebuah jumlah yang cukup banyak bagi saya saat itu.

Ketika saya mulai kuliah di tahun 2000, berjualan rekaman MP3 ke dalam kaset adalah bisnis yang cukup populer. Karena kaset masih merupakan barang yang berharga saat itu dan semua orang masih punya kaset player di rumah atau di kamarnya. Jangan bicara tentang MP3 player, jangan bicara tentang iPOD atau bahkan HP yang ada pemutar musiknya. Waktu itu hanya ada pemutar kaset dan radio portabel, atau lebih dikenal sebagai walkman. Dan bisnis ini saya jalani dengan menjual rekaman MP3 ke dalam kaset kepada adik-adik kelas saya di SMA dan rekan-rekan mahasiswa di STT Telkom. Untuk berjualan kaset ini ke SMA saya berpartner dengan seorang adik kelas saya Ira, dimana saya menjual kaset tersebut seharga 8 ribu rupiah. Sementara untuk penjualan di kampus STT Telkom saya dibantu oleh teman saya Sulton dari STT Telkom. Dimana harga yang saya berikan adalah 10 ribu rupiah. Keuntungan dari penjualan kaset tersebut sangat lumayan bagi saya saat itu. Karena saya hanya mengeluarkan modal 4 ribu rupiah untuk sebuah kaset kosong dengan kapasitas 90 menit dan modal tahan begadang selama bermalam-malam.

Ketika saya kuliah di STMB, bisnis sampingan yang saya jalani mulai beragam. Mulai dari membuatkan tugas makalah kuliah bagi teman-teman sekelas seharga 15 ribu rupiah per eksemplar, jasa kursus komputer seharga 30 ribu rupiah per satu sesi :), jasa installasi dan service komputer, jasa penyewaan server dan penjualan nama domain, jasa menjual sms broadcast sampai kepada jasa pembuatan dan installasi web site. Dimana untuk dua pekerjaan sambilan terakhir cukup menambah tebal uang saku saya saat itu :). Ada kejadian lucu untuk jenis bisnis sms broadcast.

Jasa SMS broadcast ini pada waktu itu (tahun 2005) kurang begitu populer di tanah air. Hal ini karena pada waktu itu bisnis ini masih tergolong baru. Jasa ini memungkinkan orang untuk mengirimkan SMS secara bersamaan ke banyak nomor sekaligus. Selain itu, nomor pengirim bisa dirubah menjadi karakter alphanumerik atau karakter huruf dan angka. Persis seperti spam SMS broadcast yang kita terima dari operator saat ini. Pada waktu itu saya menjual jasa sms broadcast ini kepada pihak kampus sebagai sarana pengumuman kelulusan pendaftaran mahasiswa baru, dimana selain mendapatkan surat resmi dari kampus, mahasiswa juga mendapatkan kiriman SMS mengenai status kelulusan mereka. Lulus atau tidak lulus. Nah disini letak kelucuannya. Pada waktu itu saya harus mengirimkan SMS ini ke 500 nomor sekaligus pada malam hari untuk menghindari traffic overload. Berhubung pada saat pengiriman saya sudah agag setengah mengantuk, saya salah memasukkan nomor penerima, dimana saat itu saya memasukkan beberapa nomor yang seharusnya lulus malah dimasukkan kedalam kelompok nomor tidak lulus. Seperti diduga, orang-orang tersebut mendapatkan berita yang berbeda, di SMS disebutkan tidak lulus, tapi surat kelulusan mereka terima. Tentu saja hal ini membingungkan, dan hasilnya saya dimarahi oleh pihak kampus akibat keteledoran ini.

Selain hal di atas, sebenarnya masih banyak kesalahan-kesalahan yang saya buat selama saya bekerja sambilan. Dimarahi oleh pelanggan, komplain dan hal-hal yang tidak mengenakkan cukup sering saya terima. Tapi saya tidak pernah bersedih karena masalah itu dan saya juga tidak menyesalinya. Bagi saya itu adalah sarana pembelajaran hidup yang teramat penting. Saya bersyukur pernah mengalami hal tersebut. Meskipun saya tidak pernah menginginkan kelak anak saya meniru cara saya, tapi saya harap kelak anak saya dapat belajar dari apa yang telah saya jalani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar