Keputusan untuk mengambil kuliah di Unpas jurusan Teknik Informatika saat itu saya ambil karena pada waktu itu saya sudah terlanjur bergelut di bidang teknologi informasi selepas saya mengambil kursus IT di QCollege. Oleh karena itu saya berharap saya bisa memperdalam pengetahuan saya mengenai IT di kampus ini. Berbekal harapan tersebut, saya pun mendaftar menjadi mahasiswa baru di kampus ini.
Satu hal yang tidak saya pertimbangkan pada saat itu, saya masih buta dengan keadaan dunia kampus ini pada umumnya, saya tidak meminta pendapat teman-teman saya yang sudah terlebih dulu kuliah di sini. Saya saat itu hanya main daftar saja tanpa mencari informasi yang jelas mengenai gambaran umum kampus ini. Sebagai akibatnya, saya mengalami gegar budaya. Dimana sebelumnya ketika saya masih kursus di QCollege, saya dididik layaknya sebagai professional mandiri yang siap pakai, sementara di kampus ini saya harus belajar kembali menjadi mahasiswa baru yang didoktrin tentang loyalitas, kebersamaan dan kekompakkan sebagai sebuah kelompok. Satu hal yang berseberangan dengan keinginan saya saat itu yang ingin lebih memperdalam ilmu saya mengenai konsep teknologi informasi dibandingkan hal-hal dasar mengenai sebuah organisasi kemahasiswaan. Hal ini yang menjadi dasar pembangkangan saya terhadap sistem saat itu. Selain itu, budaya mahasiswa angkatan atas yang menurut saya feodal saat itu semakin menambah ketidak sukaan saya terhadap sistem yang ada.
Keadaan di atas diperparah dengan keputusan saya untuk bekerja sebagai operator part timer di sebuah warnet. Cerita mengenai warnet ini akan saya tulis di posting berikutnya. Di warnet ini ternyata selain saya bisa bekerja, tapi saya juga merasa bisa mempraktekkan apa yang saya pelajari selama saya kursus teknologi informasi sebelumnya, karena di warnet ini saya terhubung dengan fasilitas internet 24 jam dengan kecepatan tinggi. Sebuah godaan yang menggiurkan saat itu. Selain itu, saya juga banyak mendapatkan masukan dari rekan-rekan kerja saya yang kebetulan adalah mahasiswa di STMB. Mereka banyak memberikan masukan mengenai peluang-peluang di teknologi informasi dan telekomunikasi, dan menurut mereka itu bisa saya dapatkan di STMB.
Kombinasi dari keadaan diatas rupanya memberi pengaruh cukup buruk bagi saya saat itu. Ya, sebagai operator part timer saya mempunyai jatah bekerja sebanyak 1 shift (8 jam) sehari. Dan selain itu saya juga harus mengatur waktu dan jadwal kuliah saya. Ketidak seimbangan saya didalam mengatur waktu ditambah motivasi yang buruk membuat saya semakin setengah hati di dalam menjalani kuliah saya di Unpas. Semakin hari rasanya semakin buruk. Mulai dari mencoba untuk mengambil jatah bolos sebanyak 1 kali, ditambah 1 lagi dan lagi dan lagi sampai akhirnya bolos untuk sisa semester. Ketidak beresan ini rupanya tercium oleh keluarga saya, dimana pada akhirnya ayah saya memberikan pilihan, kuliah atau kerja sebagai penjaga warnet? dan saya pun menjawab bekerja sebagai penjaga warnet. Sebuah keputusan yang tentu saja mendatangkan reaksi keras dari berbagai pihak.
Tapi mungkin karena memang dasar saya adalah sebagai pemberontak, saya pun berontak dengan kecaman dari keluarga saya. Siapapun saya lawan saat itu, tanpa pernah saya menyadari sedikitpun bahwa mereka itu sayang dan perhatian sama saya. Keras kepala ya saya? sesuatu yang kadang saya malu sampai saat ini. Pada akhirnya karena kerasnya tekanan dari keluarga, saya pun mencoba untuk kembali ke jalan yang mereka inginkan. Tapi mungkin karena masih setengah hati menjalani, sebuah insiden kecil mewarnai, saya naik motor sampai nabrak orang. Sebuah insiden yang sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya saya tidak keras kepala. Selepas kejadian itu, ibu saya menyadari bahwa saya tidak bisa menjalani keadaan ini secara terpaksa. Dan akhirnya ayah saya pun angkat bicara dan menanyakan rencana saya selanjutnya. Dengan mantap saya berkata, saya ingin masuk ke STMB. Tanpa menanyakan alasannya, ayah saya bilang satu perkataan yang menjadi cambuk motivasi saya saat itu. "Silahkan kamu ikuti keinginan kamu, tapi seandainya kamu berhenti di tengah jalan karena saya sudah tidak sanggup lagi untuk membiayai kamu, kamu jangan sakit hati".
Akhirnya dengan mantap saya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari kampus lama dan mendaftar di kampus STMB. Sebuah keputusan yang saya rasa cukup berat bagi saya saat itu karena tentangan dari berbagai pihak tapi tidak pernah saya sesali sampai detik ini. Dan satu hal yang selalu menjadi motivasi utama bagi saya, dukungan dari ibu saya. Ibu saya bilang kalau ini memang harus menjadi jalan saya, maka jalani dengan sepenuh hati dan jangan pernah menyesal.
Sampai saat ini, saya merasa 2001 s/d 2002 adalah masa-masa yang hilang di dalam kehidupan saya. Ketika beberapa hari yang lalu saya melihat album kebersamaan teman-teman saya di Unpas seolah-olah saya terkenang kembali masa-masa penuh pertarungan batin tersebut. Seandainya saya tidak mengambil keputusan itu, mungkin saya akan menjadi bagian dari photo2 tersebut. Tapi saya tidak menyesali itu semua, saya bahagia dengan keputusan saya, dan saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari masa-masa itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar