Sebagai perhitungan, pada waktu itu ongkos yang harus saya keluarkan dari rumah sampai ke kampus adalah sekitar 18 ribu rupiah pergi pulang, sementara saya hanya diberi uang harian hanya sebesar 20 ribu rupiah. Sisa 2 ribu rupiah itu yang harus saya siasati gimana caranya agar perut saya tetap kenyang. Oleh karena itu seringkali saya meminta uang kepada orang tua saya untuk 3 hari sekaligus, dimana saya tidak akan pulang lagi selama 3 hari kedepannya.
Tapi hal di atas tidak bisa sering-sering saya lakukan, karena pada masa saya kuliah keadaan ekonomi keluarga saya pun tidak begitu baik. Ayah saya hanya seorang teknisi kelas rendah di sebuah kantor BUMN dengan gaji sebesar 700 ribu rupiah, jumlah itu sudah dikurangi berbagai macam pinjaman dan cicilan. Sementara saat itu ayah saya harus membiayai 3 orang anaknya sekolah, dimana 2 diantaranya kuliah, yaitu saya dan adik saya. Sebagai bahan renungan, biaya kuliah saya saat itu adalah 1,75 juta rupiah dan adik saya adalah 2,5 juta rupiah per semesternya. Oleh karena itu, ibu saya seringkali memutar otaknya untuk menyiasati keadaan kami yang serba kekurangan pada waktu itu. Sampai saat ini, keberanian ayah saya dan ibu saya didalam menghadapi keadaan kami yang serba kekurangan dan keputusan untuk tetap menyekolahkan kami adalah sebuah keputusan paling berani di dalam hidup saya, dan saya mengagumi mereka karena itu. Mengenai apa yang ibu dan ayah saya lakukan didalam menyiasati keadaan akan saya ceritakan didalam posting terpisah.
Menyadari bahwa saya adalah mahasiswa yang berada di dekat garis kemiskinan :) , maka beragam cara harus saya lakukan agar saya tetap bisa kuliah, bisa tetap makan dan bisa tetap berprestasi :D, dan seperti saya ceritakan sebelumnya, menggembel menjadi salah satu hal yang saya sering lakukan. Saat itu saya seringkali menumpang di kossan Bowo, salah seorang sahabat terbaik saya sampai sekarang. Kossan bowo pada waktu itu terletak di daerah Budi Luhur, daerah yang berdekatan dengan kampus saya di Gegerkalong. Kenapa saya hobi menggembel di sini? karena di kossan ini suasananya paling enak menurut saya. Udaranya dingin, kamarnya luas, tempat tidurnya hangat dan yang pasti si bowo ini sahabat saya yang paling klop kalo masalah curhat dan cerita-cerita. Selain menumpang di kossan bowo, tentu saja saya juga sering meminjam uang. Tidak banyak-banyak, hanya sekitar 5 sampai dengan 10 ribu, cukup untuk mengganjal perut. Bahkan pernah kami berdua hanya punya uang 10 ribu rupiah lagi untuk sisa tiga hari kedepan, dimana pada waktu itu kami bingung harus makan apa dengan uang 10 ribu tersebut :D.
Kossan lain yang sering saya gembeli saat itu adalah kontrakan teman-teman saya di daerah Cipedes atas. Disebut kontrakan karena saat itu teman-teman saya sebanyak 5 orang mengontrak sebuah rumah dan ditinggali bersama-sama. Rumah ini menjadi favorit tujuan para gembel-gembel seperti saya karena jam bukanya. Rumah ini selalu terbuka bagi siapa saja yang kemalaman di jalan dan membutuhkan tempat untuk berteduh. Rumah ini terdiri dari 2 kamar tidur utama dan 1 ruangan keluarga besar yang dipergunakan untuk nonton tv atau main ps. Satu hal yang menjadi perhatian di sini, jumlah gembel yang sering ikut berteduh seringkali lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penyewa rumah. Dalam satu malam bisa sampai 20 gembel sekaligus. Selain itu, gembel-gembel ini seringkali tidak tahu diri :D, mereka tidur di kamar tidur utama sementara penyewa rumah tidur di ruang tamu atau di depan tv.
Satu kejadian yang paling saya ingat seumur-umur ketika menggembel di Cipedes ini adalah pada waktu itu para penyewa rumah mempunyai hobi memelihara ular. Salah satu ular yang dipeliharanya adalah ular phyton seukuran lengan orang dewasa. Ular ini sering lepas dan kabur dari aquariumnya. Tapi para pemiliknya tidak begitu khawatir dengan lepasnya ular tersebut. Karena biasanya cukup dengan menunggu sampai terdengar ada teriakan ketakutan dari rumah sebelah atau dari halaman rumah, maka ular tersebut sudah bisa dipastikan ada di sumber suara teriakan tersebut. Sampai sekali waktu, ketika saya tidur di kamar depan bersama teman saya. Pagi-pagi kami dibangunkan oleh teman saya yang sedang mencari ularnya, mereka membangunkan kami untuk mencari siapa tahu ular tersebut masuk ke kamar kami. Karena saya tidak merasa saya pun menyanggahnya dengan mengatakan tidak mungkin ular tersebut masuk, karena kamar ini tertutup pintunya selama semalaman. Saya pun masuk lagi ke kamar tidur. Ketika saya hendak melanjutkan tidur, saya merapikan bantal, ketika saya mengangkat bantal terlihat ular tersebut sudah menggulung di bawah bantal saya. Sontak saya dan teman saya berteriak sekuat-kuatnya dan loncat keluar melalui jendela sambil lari ke halaman. BRrrrrrr!!! apa jadinya kalau kami digulung ketika tidur.
Kossan lain yang menjadi tujuan menggembel saya adalah kossan salah seorang sahabat saya, Fima. Kossan si Fima ini terletak di belakang kompleks KPAD Gegerkalong hilir, sangat dekat dengan kampus. Kossan ini merupakan kossan pertama yang saya gembeli sejak masa awal kuliah. Di kossan ini sering berkumpul teman-teman sekelas saya, mulai dari mengerjakan tugas sampai dengan main game atau nonton film bersama. Salah satu kejadian yang paling membekas bagi saya adalah ketika suatu malam saya hanya tinggal mempunyai sisa uang 4 ribu rupiah di kantong, sementara saat itu saya dalam keadaan demam tinggi. Kossan yang saya gedor adalah kossan si Fima ini. Ketika dibuka, ternyata saat itu si Fima ini sama sedang mengalami demam tinggi juga. Akhirnya saat itu karena sudah tengah malam, kami berdua pergi beli obat sambil sempoyongan menahan sakit kepala di warung 24 jam di dekat kampus kami. Selain itu saya pun dipinjami uang sebesar 10 ribu rupiah untuk beli makanan kecil untuk sekedar mengganjal perut saya saat itu. Sampai di kossan kami minum obat dan tertidur.
Selain teman-teman diatas, masih banyak lagi teman-teman yang berjasa bagi saya yang sering saya susahkan selama masa-masa kuliah saya. Mereka adalah orang-orang yang paling berjasa bagi saya selama saya kuliah, tentunya selain orang tua saya. Mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk membalas semua budi baik mereka ketika saya sedang susah. Mudah-mudahan pengalaman saya ini tidak terulang oleh anak saya kelak, cukup mereka tahu bahwa dulu ketika saya kuliah saya tidak seberuntung orang-orang. Tapi satu hal yang wajib saya syukuri, adalah kesempatan yang diberikan kepada saya. Semoga pengorbanan mereka mendapatkan balasan yang jauh lebih besar lagi. Amien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar